Komunikasi Remaja dan Orang Tua : Berbicara dan Mendengar

Komunikasi Remaja dan Orang Tua : Berbicara dan Mendengar

Apakah anda merasa semakin cerewet ketika menghadapi anak-anak yang kini beranjak remaja? Anda masih saja berteriak karena banyak tugas yang belum mereka kerjakan.
Atau mereka lebih mendengarkan perkataan teman-teman daripada orang tua mereka sendiri? Tentu tidak nyaman berada dalam hubungan anak-orang tua yang kurang harmoni.
Bagaimana seorang remaja mau terbuka terhadap orangtua yang gemar menghukum? Padahal Kebaikan anak-anak remaja kita kadang-kadang keselamatan mereka bergantung pada akses terhadap pemikiran dan nilai-nilai orang tua.

Remaja perlu bisa mengungkapkan keraguannya, memercayakan ketakutannya, dan meninjau pilihan-pilihan
bersama orang dewasa yang mau mendengarkan mereka tanpa menghakimi dan membantu mereka membuat keputusan yang bertanggung jawab. Siapa lagi, selain orang tua, yang akan ada untuk mereka setiap saat ketika mereka melalui masa-masa kritis untuk membantu mereka melawan pesan-pesan media yang menggoda? Siapa yang akan membantu mereka menghadapi kekerasan, kebutuhan akan penerimaan, ketakutan akan penolakan, terror, kebahagiaan dan kebingunan di masa remaja? Siapa yang akan membantu mereka bergumul dengan tekanan untuk menyesuaikan diri dan tarikan untuk menjadi diri mereka sendiri.

Kadang kita dihadapkan pilihan : Mengubah pemikiran kita dari “bagaimana kita memperbaiki” menjadi “bagaimana kita membuat anak-anak kita berdaya dan mampu untuk memperbaiki berbagai hal sendiri?
Namun, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa hukuman merupakan metode kedisiplinan. Bahkan banyak orang tua yang memandang kedisiplinan dan hukuman sebagai satu hal yang sama.
Jika kita dipaksa menghilangkan hukuman sebagai alat pendisiplinan, apakah kita akan benar-benar tidak berdaya? Apakah anak-anak remaja kita akan menjadi semena-mena? Apakah mereka akan menjadi liar, tidak disiplin, manja, tidak peka terhadap apa yang benar dan salah dan tidak memperdulikan orang tua mereka? Atau mungkinkah ada metode lain selain hukuman yang bisa memotivitasi anak remaja kita untuk berperilaku lebih bertanggung jawab.

Seringkali kita dihadapkan dengan kondisi-kondisi dimana orang tua dan anak remaja terjadi konflik yang terkadang susah dihindari, kondisi itu misalnya :
1.Perintah sering menciptakan kekesalan dan perlawanan atau dengan menjelaskan masalahnya, kita mengajak anak remaja kita menjadi bagian dari solusi
2.Ketika kita marah, kadang-kadang kita mengucapkan kata-kata yang menyerang anak remaja kita. Hasilnya? Mereka malah menarik diri atau balik menyerang? Atau Ketika kita menjelaskan apa yang kita rasakan, lebih mudah bagi anak kita untuk mendengar kita dan membantu.
3.Ketika anak remaja dituduh, mereka biasanya menjadi defensive atau ketika anak remaja diberi informasi secara sederhana dan penuh hormat, mereka lebih cenderung bertanggung jawab atas apa yang perlu dilakukan
4.Banyak remaja menanggapi ancaman dengan perlawanan atau ketaatan yang disertai dengan sikap bersungut-sungut atau
Kita lebih berpeluang mendapat kerja sama anak kita jika kita bisa menawarkan sebuah pilihan yang memenuhi kebutuhan kita dan dia.

Dalam menghadapi kondisi seperti itu hendaknya solusi yang terbaik salah satunya adalah Memecahkan masalah bersama, misalnya :
1.Mintalah anak remaja anda mengungkapkan sudut pandangnya.
Orang tua : Sesuatu membuatmu sulit untuk menepati janji jam malam
Remaja : Hanya aku remaja yang harus berada dirumah pada pukul 9 malam. Aku sudah harus pulang ketika semua orang sedang bersenang-senang
2. Nyatakan sudut pandang anda
Orang tua : Ketika Ayah mengharapkanmu berada di rumah pada waktu tertentu dan kamu masih belum pulang, Ayah jadi khawatir. Ayah jadi membayangkan yang tidak-tidak
3. Ajaklah anak remaja anda menggali ide bersama anda
Orang tua : Mari kita gali ide yang bisa memberimu lebih banyak waktu dengan teman-temanmu dan pada saat yang sama membuat pikiran Ayah tenang.
4. Tuliskan semua ide baik yang konyol maupun yang masuk akal tanpa mengevaluasi
a. Biarkanlah aku diluar rumah selama yang aku mau dan jangan menungguku. (remaja)
b. Tidak akan pernah mengijinkanmu keluar rumah lagi sampai kamu menikah. (Orang tua)
c. Menaikkan jam malam menjadi jam sepuluh. (remaja)
d. Memperpanjang jam malammu menjadi pukul smebilan lebih tiga puluh menit-untuk sementara. (orang tua)
5. Tinjau kembali daftar anda. Tentukan ide mana yang kalian berdua sepakati dan bagaimana menerapkannya
Remaja : Pukul Sembilan lebih tiga puluh menit lebih baik. Tapi kenapa sementara?
Orang Tua : Kita bisa menjadikannya permanen. Kamu hanya perlu membuktikan bahwa kamu bisa pulang tepat waktu mulai sekarang
Remaja : Sepakat

Dapat disimpulkan bahwa :
1. Kesopanan itu penting : kemarahan bisa diungkapkan tanpa penghinaan
2. Kata-kata itu Penting : Apa yang anda pilih untuk dikatakan bisa menyebabkan kekesalan atau menghasilkan itikad baik.
3. Hukuman tidak punya tempat dalam hubungan yang penuh kasih sayang. Kita semua dalam proses, bisa berbuat salah dan mampu menghadapi kesalahan kita dan melakukan perbaikan.
4. Perbedaan kita tidak perlu mengalahkan kita. Masalah-masalah yang tampaknya tidak bisa dipecahkan bisa membantu kita mendengarkan dengan lebih hormat, membuat kita lebih kreatif dan melatih ketekunan kita.
5. Kita semua perlu merasa dihargai : Bukan hanya karena siapa kita, tetapi akan menjadi kita

Sumber : Berbicara & Mendengar – Adele Faber & Elaine Mazlish-2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *