Kepala Perwakilan
BKKBN Provinsi Jawa Timur
Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc, Dip Com
Pembina Utama Muda
NIP. 19610904 198603 2 001
 
Intranet BKKBN
Link Internal BKKBN
Follow BKKBN JATIM
Index Berita BKKBN JATIM
Perubahan Sekecil Apapun, Orangtua Harus Tahu

2012-10-22  11:06:24  , diposting oleh : Humas

Hubungan suami-istri dilakukan sebelum nikah, telah menjadi masalah serius para remaja di negeri ini. Berikut adalah wawancara Wartawan Surabaya Post (W), Risandiarto Mardika dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Djuwartini, SKM, MM, untuk membedah lebih jauh tentang pernikahan dini dengan hubungan pra nikah sebagai faktornya. 

W: Sebenarnya, apa faktor utama yang menyebabkan pernikahan dini pada remaja di Jatim, atau bahkan di Indonesia sendiri?

Djuwartini: Didominasi oleh sebuah budaya yang melekat pada masyarakat, yaitu masih menganggap seorang perempuan tidak harus menempuh pendidikan tinggi. Hal inilah yang paling sering terjadi pada masyarakat, dan biasanya cenderung terjadi pada masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi rendah.

Kedua biasanya orangtua ingin segera melepas tanggung jawab terhadap anaknya. Kalau anak perempuan dinikahkan, otomatis tanggung jawab sepenuhnya akan ditanggung oleh suaminya. Butuh waktu yang sangat panjang untuk memberikan pengertian kepada orangtua kalau mindset seperti itu harus diubah. Butuh banyak pihak untuk memberikan pemahaman agar minset itu berubah.

Selanjutnya, meskipun kita tidak mencatat khusus tentang hubungan pra nikah yang dilakukan oleh remaja, namun dari hasil survei berbagai pihak yang telah kita himpun selama ini, menunjukkan jika kebanyakan remaja telah melakukan hubungan pra nikah. Ini sangat mengerikan sekali. Hal ini juga yang menurut saya menjadi salah satu faktor terjadinya sebuah pernikahan dini.

W: Faktor apakah yang membuat remaja cenderung untuk melakukan hubungan pra nikah?

Djuwartini: Menurut saya fenomena ini sekarang banyak terjadi, karena akibat pengaruh dari globalisasi serta informasi apapun yang dapat dengan mudah untuk diakses. Karena itu keinginan remaja untuk melakukan hal-hal yang harusnya tidak dilakukan sangatlah besar.  Kita semua berusaha mencegah seoptimal mungkin. Banyak cara yang sebenarnya bisa kita lakukan, diantaranya dengan mengalihkannya ke berbagai kegiatan yang lain, misalkan olahraga, atau kesenian. Jadi harus dilarikan pada kegiatan-kegiatan yang positif.

W: Jika kondisinya seperti ini siapakah pihak yang bertanggung jawab?

Djuwartini: Yang jelas orangtua sebagai pihak yang patut untuk disalahkan jika kondisi seperti itu terjadi. Oleh karena itu, orangtua sangat dianjurkan untuk memberikan perhatian lebih. Bahkan, perubahan sekecil apapun yang terjadi pada seorang anak harus disadari oleh orangtua. Karena hal ini sangat penting agar hubungan pra nikah ini tidak dilakukan oleh anak. Kita hanya membantu tugas orangtua dalam mengawasi serta membimbing anak, selebihnya adalah tugas dari orangtua.

W: Lalu, apa saja yang menjadi program BKKBN Jatim untuk membantu orangtua tersebut?

Djuwartini: Kita mempunyai Pusat Informasi dan Konseling atau yang sering disingkat PIK di tiap-tiap sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Di Jatim sudah ada sekitar 1.500 sekolah yang telah tersentuh program PIK ini.

W: Seberapa jauh dampak program ini, sebab kenyataannya pernikahan dini saat ini masih tinggi angkanya?

Djuwartini: Saat ini sedang dilakukan penelitian, tentang seberapa jauh program ini berhasil menekan pernikahan dini. Hasilnya belum ada, tapi kita yakin dengan adanya program PIK, mereka lebih memahami kesehatan reproduksi dengan baik. Setidaknya kita juga berusaha menghindarkan mereka dari seks bebas, serta penggunaan narkoba juga.

Agar PIK ini lebih berhasil, kita juga memberikan semacam pembinaan kepada siswa, untuk membentuk mereka menjadi seorang pembimbing yang mampu memberikan bimbingan kepada teman-temannya. Kenapa kita juga membina siswa agar mereka juga mampu memberikan bimbingan kepada temannya yang lain? Karena kebanyakan siswa lebih suka berkonsultasi kepada temannya yang usianya sebaya.

W: Untuk ke depannya apa yang ingin anda lakukan agar PIK mampu menekan pernikahan di usia dini?

Djuwartini: Tidak semua sekolah di Jatim ini tersentuh oleh adanya PIK. Sejauh ini kurang lebih masih sekitar 15% saja sekolah di Jatim ini yang tersentuh program PIK. Untuk berikutnya saya ingin meratakan program PIK di seluruh sekolah yang ada di Jatim.  Sebab tiga yang kini mengancam remaja Indonesia, yaitu penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, dan hubungan pra nikah.*

Sumber : http://www.surabayapost.co.id/

 



Logo Program KKB
 
Info Program Info UPPKS