BKKBN Jatim Gagas Pendidikan Pranikah

BKKBN Jatim Gagas Pendidikan Pranikah

MENIKAH adalah fase yang harus dilalui oleh setiap orang. Menikah juga merupakan rangkaian kehidupan untuk membina biduk rumah tangga. Setiap orang pasti punya cita-cita agar biduk rumah tangganya bahagia.

Untuk menuju ke arah itu, tentunya dibutuhkan pengetahuan hingga pendidikan sebelum pernikahan. Hal itu untuk menekan angka kegagalan dalam pernikahan dan mematangkan metal untuk mengarungi biduk rumah tangga. Alasan itulah Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur menggagas pendidikan pranikah bagi remaja.

“Pendidikan pranikah ini sangat penting. Selain untuk mengurangi akan perceraian, juga untuk menjadikan ketahanan keluarga,” tutur Kepala BKKBN Jawa Timur Djuartini di Kantor BKKBN Jatim, Jalan Airlangga, Surabaya, Rabu (8/8/2012).

Pendidikan pranikah ini sama halnya dilakukan di luar negeri, salah satunya Malaysia. Bahkan, untuk mewujudkan gagasan tersebut, pihaknya akan melakukan studi banding ke negeri Jiran itu.

Beberapa elemen yang bakal terlibat dalam pendidikan pranikah ini telah dipersiapkan, di antara dengan kedokteran, psikolog dan praktisi keagamaan. Namun, BKKBN masih kesulitan untuk mencari model pendidikan pranikah tersebut.

“Kita masih cari model bagaimana pendidikan pranikah. Termasuk dengan melakukan sejumlah penelitian,” jelasnya.

Perempuan berjilbab ini menjelaskan, Jawa Timur merupakan daerah yang banyak melangsungkan pernikahan di usia muda. Di Jawa Timur, remaja putri melangsungkan usia pernikahan banyak di usia 19 tahun.

Memang, katanya, menikah di usia tersebut tidak melanggar Undang-undang. Hanya saja, seorang remaja putri siap menikah adalah usia 21 tahun.

“Pada usia itu alat reproduksinya sudah siap untuk dibuahi. Itulah pentingnya pendidikan pranikah ini,” tutupnya. (tty)

Sumber : health.okezone.com/read/2012/08/08/482/674992

 

Tekan Pernikahan Dini, BKKBN Garap Pesantren

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA – Badan Kependudukan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) akan menggarap pondok pesantren di Jawa Timur. Ini dilakukan sebagai upaya menekan angka pernikahan dini di kalangan remaja.

Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Djuwartini mengatakan, dengan penggarapan remaja melalui pondok pesantren, pihaknya akan ajak santri yang jumlahnya mencapai ratusan ribu agar mereka memahami masalah  kependudukan, khususnya agar tidak melakukan pernikahan dini dan  terhindar dari jeratan narkotika serta obat-obatan terlarang.

“Dengan begitu, ketika melangkah ke jenjang pernikahan, para remaja santri  benar-benar siap dan rumah tangganya nanti langgeng dan bahagia,” ujarnya, Rabu (8/8/2012).

Untuk menyentuh remaja di Pondok Pesantren tersebut, BKKBN Jatim menggandeng LKK Nahdlatul Ulama (NU).

Pada tahap awal, Pondok Pesantren yang disasar adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Ke depan, kerjasama akan dilakukan dengan banyak Pondok Pesantren lain di Jatim.

Menurut Djuwartini, saat ini jumlah remaja di Jatim mencapai 17 persen dari sekitar 38 juta penduduk. Dari jumlah itu, rata-rata usia menikah di Jatim baru 19,7 tahun. Pihaknya berharap, dengan program menyasar Pondok Pesantren dan sejumlah program lain, angka usia menikah bisa naik menjadi 21 tahun.

“Itu penting, agar jumlah remaja yang besar itu menikah bareng, lalu punya anak bareng, bisa-bisa terjadi baby boom. Makanya perlu adanya penundaan pernikahan, tentu dengan perencanaan yang matang,” tegas Djuwartini.

Sumber : www.tribunnews.com/2012/08/08/tekan-pernikahan-dini-bkkbn-garap-pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *