BKKBN Jatim Gelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga Bersama Komisi IX DPR RI di Situbondo

Situbondo –  Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur melaksanakan sosialisasi program pembangunan keluarga bersama mitra kerja komisi IX DPR RI, Jumat (18/09). Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Kumbang Sari Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo ini dihadiri oleh Sy Anas Thahir, Anggota Komisi IX DPR RI, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd , Kepala Dinas PPKB Kab Situbondo Drs.Imam Ghazali, dan Camat Jangkar.

Situbondo memiliki komitmen kuat dalam mendukung program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana. “GenRe Situbondo tahun ini berhasil memiliki prestasi luar biasa dimana kami berhasil mengirimkan remaja GenRe baik putra dan putri menjadi 5 besar di tingkat provinsi jawa timur, untuk kategorinya putri kami berhasil meraih juara 2. Kami berkomitmen dalam mendukung para remaja untuk terus aktif dalam memberikan pemahaman mengenai pendewasaan usia perkawinan dan mendukung program Banggakencana terutama di kalangan remaja,” jelas Imam.

Senada dengan dukungan program GenRe, anggota DPR kelahiran Banyuwangi ini pun mengajak para muda untuk menikah di usia ideal, yakni 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. “Usia menikah sekarang yang ideal adalah laki laki adalah 25 dan perempuan adalah 21, kenapa? Karena di usia 21 secara kesehatan perempuan sudah cukup kuat untuk melahirkan , sedangkan untuk ukuran laki laki sudah siap secara usia kedewasaan karena  sudah memasuki usia produktif untuk bekerja,” ujar Anas Thahir.

Sementara itu, Kang Teguh (sapaan akrab Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur:red) menjelaskan pentingnya program KB. “Program KB tidak hanya alat kontrasepsi saja bahkan di undang undang tidak ada yang menyampaikan bahwa BKKBN itu lekat dengan alat kontrasepsi. Manfaat KB selain melakukan pengendalian penduduk adalah mengedepankan kesehetan ibu dan anak dan di masa depan adalah ingin membantu mensejahterakan keluarga terutama remaja,” jelasnya.

Kang teguh menambahkan, tugas saat ini adalah bagaimana pemahaman KB diteruskan kepada generasi millennial dan juga tantangan stunting. “Pemahaman KB yang komprehensif harus di ketok tularkan ke generasi yang sekarang menjadi generasi yang memiliki lebih dari 30% masyarakat Indonesia yaitu generasi milenial. Jika lebih 30% bayi stunting bisa jadi  generasi yang akan depan penduduk produktif nya alumni stunting daya pikir lemot,” tambahnya.

Ia pun mengajak warga Situbondo terus memperkenalkan KB dengan cara baru dan menyikapinya di masa pandemi. “Situbondo menjadi sejarah di nasional dimana kalangan ulama mendukung program Banggakencana dan mampu melakukan pelayanan KB MOP dengan target 200. Oleh karena itu, Saya harap program KB terus di perkenalkan dengan cara-cara baru. Para ibu juga mari kita jaga kesehatan masing-masing terutama dari pandemi COVID-19,” pungkasnya. (Humas/ADPIN).