GELIAT MOP

GELIAT MOP

Dalam rangka meningkatkan kesertaan ber KB, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Barencana melakukan terobosan dengan melakukan sosialisasi alat kontrasepsi terutama Metode Kontrasepsi Pria (MOP).

Sasaran sosialisasi yang dilakukan langsung pada kelompok – kelompok pria. Pada tahun 2015 sasaran sosialisasi pada komunitas paguyupan sopir angkot dan paguyupan ojek. Namun masih banyak keraguan sehingga kurang bisa memberikan kontribusi pada peningkatan kesertaan MOP. Bekerjasama dengan Pusdik Arhanud melakukan terobosan baru dengan melakukan sosialisasi kepada bapak – bapak TNI yang diikuti oleh :

  • Poltekes 28 orang
  • Dohar Sista Arhanud 37 orang
  • Pusdik Arhanud 98 orang

Kegiatan yang dilakukan Rabu tanggal 23 Mei 2018 diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih kepada masyarakat utamanya TNI karena selama ini persepsi mereka KB adalah untuk kaum ibu.

Seperti diketahui MOP adalah tindakan operasi menutup saluran sel sperma yang sangat efektif dan aman bagi hampir semua pria yang tidak menghendaki anak lagi. proses operasi dilakukan oleh dokter bedah/dokter urulogi yang berbeda dengan metode operasi wanita (MOW) dilakukan oleh dokter kandungan.

Setelah dilakukan tindakan MOP, tidak berarti langsung aman bagi akseptor namun pasangan harus tetap menggunakan alat kontrasepsi, hal ini karena masih ada sisa sperma yang perlu dituntaskan. Kurang lebih selama 3 bulan atau 22x berhubungan dengan menggunakan kondom dan dilakukan tes sperma baru kalau sudah dinyatakan negatif maka aman untuk pasangan.

Kelebihan dari MOP adalah

  • Tidak mempengaruhi gairah seksual, yang dilekuarkan tetap tetapi hanya sedimen
  • Biaya lebih murah dari pada strerilisasi
  • Calon akseptor tidak harus puasa tetapi malah boleh makan
  • Waktu pelaksanaan relatif cepat
  • Dapat dilakukan kapan saja

Kekurangan dari MOP adalah

  • Tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS)
  • Membutuhkan prosedur operasi ringan
  • Tidak bisa dilakukan oleh semua orang

Efek samping yang dialami akseptor berbeda-beda, tergantung dari daya tahan tubuh peserta, meliputi :

  • Kadang timbul rasa nyeri atau terjadi pendarahan setelah operasi yang ditimbulkan akibat beban terlalu berat serta infeksi scrotum bila operasinya tidak sesuai prosedur
  • Nyeri dan infeksi bisa diatasi

Untuk mendongkrak kesertaan berKB Kota Batu memberikan kontribusi sebagai pengganti libur tidak kerja selama 3 hari karena istirahat sebesar 1 juta rupiah termasuk didalamnya melakukan test sperma selama 3x. target yang dilakukan dalam tahun 2018sejumlah 30 orang yang akan dilaksanakan bulan Juli 2018

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *