Grebek Pasar KB Merebut Hati Masyarakat

Grebek Pasar KB Merebut Hati Masyarakat

PONOROGO – Grebek Pasar (Gerakan Bersama Keluarga Pas Sasaran) keluarga berencana (KB) yang dikemas dalam kegiatan Grebek Pasar Tradisional dapat merebut hati dan perhatian masyarakat, bukan saja pedagang, pembeli, tetapi juga dari masyarakat di sekitar pasar dan masyarakat umum lainnya.

Grebek Pasar Tradisional yang digelar di Pasar Balong Ponorogo dibuka oleh Deputi Advokasi Penggerakan dan Informasi BKKBN Drs. Hardiyanto, Minggu (4/11/12). Acara ini juga dihadiri oleh Bupati Ponorogo H. Amin, SH, Ketua TP PKK Ponorogo Sulastri Amin, Deputi Pengendalian Penduduk BKKBN, Drs. Wendy Hartanto, MA dan empat pejabat eselon dua BKKBN yaitu Kepala Biro Keuangan Sugilar, Direktur Advokasi dan KIE, Yunus Patriawan Noya,M.Si, Direktur Hubungan Antar Lembaga Paulina JS, MM dan Direktur Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Siswanto, SH, MM.

“Grebek Pasar Tradisional semakin familiar di masyarakat. Di setiap daerah, kegiatan Grebeg Pasar selalu mendapat sambutan yang sangat besar dari masyarakat. Situasi inilah yang dimanfaatkan untuk menyosialisasikan program KB,” kata Deputi bidang Advokasi Penggerakan dan Informasi BKKBN Hardiyanto saat membuka Pasar Grebek Tradional di Pasar Balong Ponorogo, Minggu (4/11/12).

Rangkaian Grebeg Pasar Tradisional Balong selama dua hari, diwarnai oleh Roadshow mupen dan motor PLKB yang bergerak berkeliling Kota Ponorogo sejauh 60 kilometer, dan pelayanan KB. Selain itu juga digelar wayang kulit yang dimainkan oleh enam dalang yaitu Ki Agus Sabdo Priono, Ki Puguh Santoso, Ki Jarot Sadono,
Ki Sento Yitno, Ki Setyo Laksono Putro, dan Ki Tukiman.

“Pesan-pesan KB yang disampaikan melalui wayang juga sangat efektif. Semalam itu (Sabtu, 3/11/12) wayang kulit yang digelar di sini (Pasar Balong – red) ditonton oleh lebih dari 300-an warga,” kata Hardiyanto.

Pagelaran wayang kulit mengusung tema wahyu sejati. Maknanya, wahyu Allah berupa “kesejahteraan” diturunkan kepada penguasa dan pejabat untuk ditularkan kepada masyarakat. Salah satunya melalui program KB. Bagi keluarga yang sudah punya anak banyak, harus diupayakan menjadi anak-anak yang berkualitas.

Direktur Advokasi dan KIE Yunus Patriawan Noya menambahkan keterangan, Grebek Pasar Tradisional sebagai upaya untuk memberikan akses informasi soal KB. Model kampanye dengan cara menggali potensi lokal, sehingga pesan-pesan KB lebih mudah diterima oleh masyarakat. “Model Grebek Pasar ini adalah kampanye KB yangdisesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal. Ternyata teman-teman di daerah menyambut baik,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya akan membuat panduan advokasi dan KIE. Panduan ini sangat penting karena pemimpin daerah saat ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berasal dari politisi, ada yang dari birokrat, dan ada juga yang pengusaha. “Advokasi di era otonomi daerah memang tidak mudah. Oleh
karenanya, kami akan menyusun panduannya, agar bisa menjadi acuan bagi pelaksana
di daerah,” kata Yunus.

Ponorogo “Jegeg”

Sementara itu, Bupati Ponorogo H. Amin, SH mengatakan, komitmen Pemerintah Kabupaten Ponorogo terhadap program KB adalah harga mati. Hal itu ditunjukkan dengan lembaga yang khusus menangani KB yaitu Badan Keluarga Berencana yang sudah disahkan melalui Perda nomor 11 tahun 2008.

“Ponorogo memang “jegeg” (top sekali – red). TFR-nya 1,98 dibawah TFR Jatim yang 2,01, dan TFR nasional yang 2,30. Sedangkan LPP nya 1,9 persen. Keseriusan Ponorogo mendorong masyarakat agar KB menjadi kebutuhan,” kata Amin.

Usai melakukan peninjauan pelayanan KB, Amin bersama Deputi Advokasi Penggerakan dan Informasi BKKBN Hardiyanto meresmikan UPT Badan Keluarga Berencana Kecamatan Balong di Jalan Pemuda nomor 4 Balong, Ponorogo. UPT Badan Keluarga Berencana ini adalah yang ke 14. Pembangunan UPT ini, dua diantaranya dibiayai oleh APBD. “Masih kurang 7 UPT lagi yang yakan mengisi kecamatan, dan sudah dianggarkan melalui DAK (dana alokasi khusus),” ujarnya

Amin mengatakan, di Ponorogo saat ini terdapat 116 penyuluh KB (PLKB). PIhaknya masih membutuhkan 154 PLKB lagi, untuk memenuhi kebutuhan. “kami juga minta agar 109 bidan yang belum dilatih CTU agar bisa segera dilatih supaya terampil.Jumlah bidan yang sudah dilatih CTU sebanyak 360 bidan,” ujarnya.

Amin juga berjanji tidak akan mengurangi anggaran APBD nya untuk melaksanakan program KB. “Komitmen kami untuk program KB adalah harga mati. Jadi meskipun kami tidak bisa menaikkan lagi anggaran untuk program KB, minimal kami hrus mengupayakan sama atau tidak berkurang,” ujarnya.

Kepala Badan Keluarga Berencana Ponorogo, Adri Susilo mengatakan, Ada tiga tujuan Grebek pasar yaitu percepatan pencapaian program KB, meningkatkan informasi dan KIE, meningkatkan cakupan KB dengan MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang).

Selama dua hari pelayanan, pihaknya dapat menjaring 100 akseptor IUD, 200 akseptor implant, dan 7 akseptor vasektomi. (Humas BKKBN)

Sumber : Siaran Pers BKKBN

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *