Jadilah Orangtua Terbaik, Sediakan Hati untuk Anak (1)

Jadilah Orangtua Terbaik, Sediakan Hati untuk Anak (1)

Anak-anak adalah Mahakarya Tuhan yang sempurna. Tidak ada yang pernah salah dengan desain Tuhan. Semua anak terlahir suci. Anak kita hari ini adalah dari serangkaian apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Jangan bermimpi untuk mendidik anak-anak dengan baik jika kita tidak mengubah cara-cara kita dalam mendidik anak yaitu mengubah cara-cara kita memperlakukan anak dengan lebih baik. Jangan bermimpi untuk mengubah cara-cara kita dalam memperlakukan anak jika kita tidak mau mengubah cara kita dalam memandang anak. Jangan bermimpi untuk mengubah cara kita dalam memandang anak jika kita tidak mau BELAJAR.
Sebuah pernikahan tentunya tak lengkap jika tidak ada kehadiran anak. Anak mampu membawa keceriaan tersendiri di dalam sebuah keluarga. Namun, terkadang banyak orang tua yang banyak mengeluh dan memprotes akan perilaku sang anak yang menurut orang tuanya adalah nakal atau menjengkelkan dan lain sebagainya. Padahal, sifat atau sikap sang anak adalah hasil proses didikan dari orang tua mereka. Anak juga menjalani proses pembelajaran yang sama saat orang tuanya dulu masih kecil hingga menjadi orang tua. Terkadang mungkin para orang tua lupa bahwa sang anak bukanlah mesin yang dengan sekali perintah langsung jalan. Anak membutuhkan kesabaran dalam membimbing mereka. Mereka bukan makhluk yang dengan semudahnya untuk dimarahi saat berbuat salah atau bahkan memukul.
Salah satu hadiah terbesar bagi anak adalah orang tua yang mau belajar soal anak. Jika orang tua bertambah ilmunya seiring mendampingi anak, akan jauh lebih mudah baginya dalam mendidik anak. Kita jadi tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Bukan dengan asal-asalan karena perlakuan kita terhadap anak akan jadi bekal hidupnya kelak dalam mengarungi kehidupan.
Saat ini banyak sekali orang tua yang berpikir bahwa dengan menyekolahkan anak, menyuruhnya mengerjakan tugas-tugas atau PR, atau menghafal pelajaran sekolah adalah suatu bentuk mendidik anak. Itu bukan mendidik, tetapi transfer pengetahuan semata. Mendidik berkaitan dengan proses menyiapkan anak menjadi dewasa sehingga kelak ia secara sadar mau dan mampu mendidik dirinya sendiri.
Coba cermati berapa banyak sarjana yang menganggur? berapa banyak orang selepas masa sekolah merasa tidak perlu belajar lagi? banyak bukan?
Pertanyaannya, apakah mereka tidak sekolah?Sekolah semua bukan? Mengapa mereka berhenti mendidik diri sendiri? Bisa jadi karena tidak punya kemauan atau tidak punya kemampuan atau bahkan tidak punya keduanya. Bisa juga krena mereka sejak kecil tidak menemukan bahwa belajar adalah kebutuhan. Mengapa begitu? Karena semua yang mereka kerjakan sejak kecil adalah kemauan orang tua. Mereka tidak dilatih untuk merasa butuh belajar dan mendidik dirinya sendiri.
Contoh paling sederhana adalah seringkali orang tua sibuk mengingatkan anak-anak mengerjakan PR atau mengingatkan anak untuk belajar karena besok ulangan. Karena seringnya diingatkan, sampai-sampai anak-anak ini kehilangan alarm untuk mengingatkan diri sendiri. Mereka tidak pernah merasakan akibatnya jika tidak belajar karena selama ini alarm mereka adalah orang tua. Begitu lepas sekolah, sudah tidak ada orang tua sebagai alarmnya. Sementara itu, anak-anak ini tidak pernah ditanamkan untuk mempunyai alarm sendiri sebagai pengingat bahwa mereka perlu mendidik dirinya sendiri.
Persiapan pendidikan anak dimulai dari rumah sebagai fondasi dasar utama pendidikan seorang anak dan bisa disebut dengan “pendidikan rumah”. Setinggi-tingginya gedung yang ingin kita bangun, tapi jika fondasinya tidak kuat apa yang akan terjadi?
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh para orang tua dalam hal pendidikan rumah:
– Usahakan saat bicara dengan anak, sejajarkan mata kita dengan matanya. Jika ia lebih pendek, kita harus jongkok. Dengan begitu, ia akan merasa kita adalah sahabatnya, bukan bosnya dan kita akan merasa lebih nyaman.
– Berbicaralah dengan nada yang tenang, hindari bentakan, amarah, atau nada tinggi. Jika kita tenang, anak-anak akan belajar hal yang sama dan ia melihat bahwa kita sedang serius berbicara. Namun, jika sebaliknya, anak-anak melihat kita sedang panik dan seperti biasa, anak-anak adalah peniru yang luar biasa.
– Berikan pujian, biasakan memberi pujian sehingga kita tidak perlu memberi iming-iming barang jika kita minta melakukan sesuatu.
– Lihatlah kelebihannya lebih sering ketimbang kekurangannya. Misalnya nilai ulangannya 90, tetapi yang biasanya ditanyakan orang tua malah “Loh, Dek, kok salah satu, apa yang ndak bisa?” Kita tidak melihat justru yang betul 9 nomor. Ini sangat penting karena membantu kita untuk terbiasa melihat kelebihannya, terutama kelebihan di luar akademik.
– Ciptakan lingkungan yang kondusif. Hindari menyuruh anak belajar, tetapi kita malah sedang menonton TV. Anak-anak lebih senang jika diajak, bukan disuruh. Mereka juga senang jika kita dapat memberi contoh karena mereka butuh panutan atau pemimpin, dan yang paling dekat adalah kita sebagai orang tua.
Perilaku anak ikut dibentuk oleh kata-kata sehari-hari yang ia dengar tentang dirinya. Dapat dibayangkan jika kata-kata itu adalah “nakal, malas, bodoh dan lain sebagainya”. Mendidik adalah membantu anak berproses menjadi dewasa. Untuk itu, kita perlu menjadi dewasa lebih dulu. Jika kita masih suka marah-marah, membentak-bentak, dewasakah itu?
Disadur dari Buku @anakjugamanusia (Jadilah Orangtua Terbaik, Sediakan Hati untuk Anak) karya Angga Setyawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *