JRKI Mitra Penyebar Informasi KKB

JRKI Mitra Penyebar Informasi KKB

JRKI  (Jaringan Radio Komunitas Indonesia) yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar sampai di desa desa merupakan media yang bagus sebagai mitra untuk menyebar luaskan informasi mengenai masalah-masalah Kependudukan dan Keluarga Berencana, untuk itulah sekarang ini kita gandeng dan kita bagi pengetahuan tentang KKB melalui workshop.

Demikian dikatakan oleh Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr. Wendy Hartanto, MA saat membuka  Workshop JRKI “Peningkatan Kapasitas Komunikasi Perubahan Perilaku Bagi Radio Komunitas se Jawa Timur”  di Hotel Oval Surabaya, 18 November 2013.

Workshop tingkat provinsi ini merupakan tindak lanjut workshop nasional, yang akan dilanjutkan dengan workshop berikutnya untuk anggota JRKI yang lain. Workshop tahap pertama ini, menurut Kabid ADPIN Perwakilan BKKBN Jatim Waluyo Ajeng, SST, MM dikuti oleh Ketua JRKI Kota/Kabupaten se Jawa Timur ditambah pengurus JRKI Jatim. Workshop berlangsung selama empat hari dengan materi dari semua bidang di BKKBN.

“JRKI akan bisa mengangkat masalah KKB dengan memanfaatkan budaya kearifan local, menyoroti permasalahan-permasalahan KB yang ada disekitar, karena keberadaan JRKI sampai ke desa-desa, sehingga program KB akan mudah dimengerti karena dikomunikasikan dengan bahasa lokal,” kata Dr. Wendy.

Menurut Deputi Pengendalian Penduduk, masalah KKB perlu dikomunikasikan guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kalau seluruh keluarga sejahtera akan menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa. KB itu untuk merencanakan bagaimana sebuah keluarga itu kedepan. Merencanakan sebelum menikah dan sesudah menikah, agar keluarga tersebut mampu menjadi keluarga yang sejahtgera.

“Saat ini Indonesia menjadi negara paling banyak penduduknya nomor 4 di dunia, namun dari segi kualitas  masih berada di urutan ke 121, ukuran ini dilihat dari sisi pendidikan penduduk” ungkap Dr. Wendy. Dikatakan, rata-rata sekolah penduduk Indonesia adalah 5,8 tahun, artinya tidak sampai lulus SD. Dengan pendidikan demikian kalaupun jadi tenaga kerja akhirnya hanya jadi buruh atau tenaga kasar di luar negeri.

Menurut Dr. Wendy, JRKI bisa menyoroti ini. Sekolah rendah disebabkan keluarga memiliki anak banyak, sehingga tak bisa menyekolahkan sampai tinggi. Kebanyakan orang yang anaknya banyak adalah dari keluarga miskin. Artinya keluarga miskin akan melahirkan anak-anak miskin atau keluarga miskin lagi. Demikian juga ini menyebabkan pernikahan dini. Padahal pernikahan dini, banyak menghadapi resiko dan tantangan. Resiko kesehatan misalnya secara fisik dan psikis sang ibu belum siap. Pernikahan dini juga menyebabkan tingginya kematian ibu dan anak setelah melahirkan. Dengan anak yang sedikit keluarga bisa merawat anak  serta membiayai pendidikan anak dengan lebih maksimal.

“Hal – hal seperti itu bisa digarap dengan bahasa setempat, JRKI diharapkan akan menjadi ujung tombak untuk menyebarluaskan KIE KKB” tandas Dr. Wendy Hartanto, MA. (AT/Humas).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *