Kegagalan Dalam Mengambil Resiko-resiko Yang Tepat Ketika Diperlukan

Kegagalan Dalam Mengambil Resiko-resiko Yang Tepat Ketika Diperlukan

Sebagian perusahaan dalam menyaring potensi kreatif dari staf mereka lebih berhasil dari perusahaan yang lain, sementara sebagian lagi mengakhirinya pada kemunculannya yang pertama.

Rosabeth Moss Kanter

Penulis Change Master

     Saya baru saja mewawancarai manajer pembelian pada sebuah pabrik terkemuka belum lama ini, dan menanyakan kepadanya apa kriteria yang paling penting dalam memilih seorang suplair menurut pandangan dia. Dia tersenyum dan berkata, “apakah ada atau tidak saya akan kehilangan pekerjaan saya”. Melihat kebenaran yang terpancar  diwajah saya dia menambahkan, “sederhana sekali. Jika saya melayani pesanan pada sebuah perusahaan dan pesanan itu datangnya terlambat, atau hilang dalam perjalanan atau mengalami masalah kualitas itulah konsekuensi dari pekerjaan saya. Jika manajer produksi kami mendapati divinisinya menghadapi masalah dengan salah seorang suplair saya, saya jamin anda dia pasti menuntut saya dan bukan suplair itu.” “terdengar oleh saya, “saya berkomentar, “sepertinya kriteria yang paling penting adalah faktor CYA yang sudah lama itu. ” “anda sudah tau itu, “ujarnya.

     Berkenaan dengan jawabannya, saya melanjutkan pertanyaan berikutnya. “bukankah filosofi untuk melindungi para bagian belakang menjaga anda dari pertimbangan sumber-sumber pasokan baru yang mungkin bisa mengurangi biaya-biaya anda? “Tanya saya, “ya, itu berlangsung sepanjang waktu, “balasnya. “saya menerima proposal-proposal yang tidak diminta hampir setiap hari dari sumber-sumber yang berkisar antara 10-20 persen lebih rendah dari pada apa yang saya bayar sekarang, namun saya hanya melewatinya saja. “bukankah itu merintangi kemampuan anda untuk bersaing? “Tanya saya lagi. “ya, saya rasa dalam pengertian gambaran besar pasti menjadi hambatan, “ujarnya, yang tampak siap dengan topik baru untuk dibicarakan. “namun fakta yang mudah, “lanjutnya, “yakni perusahaan ini tidak memberikan insentif dalam mengambil resiko. Dan percayalah pada saya, ada peluang yang besar untuk menangkisnya jika anda terhalang. Saya ingin mendapatkan paling tidak sejumlah resiko dan kritik dari para suplair.

Bisnis Penuh Resiko

     Apa yang akan dibutuhkan agar perusahaan bisa sukses di era baru yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan ini? Saya mengarahkan pertanyaan ini kepada sebuah kelompok yang terdiri dari 100 orang senior manajer, meminta masing-masing mereka untuk mericikannya menjadi enam cirri utama. Meskipun ide-ide yang disebarkan itu sudah dikemas dalam berbagai cara, hampir semuanya setuju dengan enam ciri utama. Perusahaan-perusahaan yang ingin berhasil, ujarnya, pasti ditandai dengan kecepatan menuju pasar, ketajaman mentalitas dalam melakukan perubahan, kemampuan belajar, kegemaran untuk memberikan pelayanan, kemampuan untuk menumukan kembali diri mereka bila diperlukan, dan komitmen dalam mendukung kemampuan para karyawan.

     Ketika saya berpikir tentang cirri-ciri tersebut lebih lanjut, saya sadar bahwa terdapat sebuah tema umum diantara mereka: kecenderungan perusahaan untuk mengambil resiko. Tanpa tim manajemen dalam posis yang tepat sehingga terasa menyenangkan dalam hubungan dengan kebutuhan untuk mengambil resiko yang layak, perusahaan mungkin tidak bisa mengembangkan kecepatan, kepekaan dalam memberikan respon, dan fleksibilitas yang diperlukan untuk dapat bersaing secara efektif dalam tatanan ekonomi yang menilai sesuatu secara terbaru dan terkenal. Kecuali kalau perusahaan itu telah memiliki komitmennya sendiri untuk mengikuti keputusan yang terbaik dari para manajer yang paling mengetahui informasi, perusahaan itu tidak bisa menjadi pemain sejati dalam tatanan ekonomi ini.

     Kecenderungan perusahaan untuk mengambil resiko ditentukan oleh budaya perusahaan dan gaya para manajernya dalam mengambil resiko. Semua hal dalam kondisi yang sama, sementara budaya yang selalu tampil sebagai pemenangnya. Jika sbuah budaya dibesarkan dan disinari dengan perubahan diri dan pengambilan resiko, peluang untuk mengambil resiko dalam kepentingannya dengan kelompok-kelompok budaya yang terbentuk didalam perusahaan tidak besar. Perusahaan-perusahaan dengan budaya yang menggerakkan para karyawan untuk menerapkan gabungan mentalitas dalam pekerjaan mereka sering kali mendapatkan berbagai keuntungan yang mereka perlukan untuk bersaing.

Menghindari resiko biaya

     Beberapa tahun yang lalu saya dibantu dalam sebuah tour kesebuah pabrik bersama manajer produksinya. Saya berkata kepadanya bahwa saya terkesan dengan kebersihan pabriknya itu. “terima kasih, “ujarnya. “kami sangat bangga dengan fasilitas kami ini. “begitu kami menuju kesebuah tempat untuk istirahat sambil minum kopi, ada seseorang yang mendekati saya dan berkata, “saya tidak tahu apakah mereka menjelaskan kepada tuan, namun kami mengapalkan lebih dari 99 persen pesanan kami tepat pada waktunya. “saya katakan kepada orang itu bahwa sungguh merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, dan timnya patut diberi penghargaan. “itulah sesuatu yang kami banggakan, “ujarnya,”sesuatu yang kami semua berusaha untuk membuatnya terjadi setiap hari. Perhatian kepada para pelanggan merupakan komitmen kami.”

     Kemudian pada hari yang sangat itu pula, saya berkesempatan untuk bertemu dengan wakil direktur penjualan perusahaan. “saya sangat terkesan dengan manajer produksi anda, “ujar saya.”tidak banyak perusahaan yang mampu membukukan rekor pengapaln yang demikian fantastis tepat pada waktunya “saya makin kagum ketika dia menjawab bahwa menurutnya rekor pengapalan yang tepat pada waktunya itu sangat tinggi. “saya pasti tidak tahu betapa peningkatan dalam pengiriman yang diperlukan itu membantu penjualan anda, “komentar saya. “dalam bisnis kami, balasnya, “banyak pesanan dikirimkan kepada siapa saja yang memiliki waktu yang sudah paling singkat. Jika anda melakukannya dengan aman setiap saat, banyak sekali bisnis yang akan terus bergerak kemanapun. “saya meminta dia untuk meneliti hal ini.

Perspektif lain

     “Anggap saja anda seorang peloncat tinggi,” ia memulainya.

     “dalam kunjungan anda yang pertama kali ke bar itu, anda dengan mudah menjelaskan tinggi bar itu. Apa yang anda lakukan?”anda panjat bar itu dan melompat lagi, “balas saya.”semua itu tergantung,”jawabannya,”pada apa sasaran anda.jika sasaran anda adalah memperkecil resiko,anda meninggalkan bar dimana anda lalu terus meloncat pada ketinggiannya.jika anda benar-benar ingin yakin,anda bahkan bisa menurunkan ketinggiannya.”tampaknya seperti tidak begitu banyak tantangan,”ujar saya.”baiklah,”balasnnya,”ada sasaran yang lain sama sekali.jika anda berusaha melihat berapa ketinggian yang anda bisa capai,anda pasti memilih untuk memanjat bar itu.”bukankah itu tidak boleh tidak dalam bisnis anda dalamnya setiap bisnis yang anda ingin terus meraih yang lebih baik? “tanya saya. “ya betul,”ujarnnya, “namun ada resiko yang terkait dengan peningkatan kualitas, dan sebagian orang tidak suka dengan resiko itu.”

     “Pengapalan 99 persen dari pesanan-pesanan kami yang tepat pada waktunnya setara dengan bar yang tidak pernah di panjat,”lanjut seles menejer itu.”oleh karena menejer prodsuksi kami merupakan orang yang suka menghidari resiko,kami kehilangan banyak sekali bisnis itu karena kami tidak cukup agresif dengan waktu-waktu yang sudah pasti. Anda harus melihatnnya dalam hubungan dengan tujuan yang lebih luas,”ujarnnya.”jika kami lebih agresif dengan tanggal yang kami janjikan,kami bisa meningkatkan penjualan kami sebanyak 20 persen. Persentase pengiriman kami yang tepat waktu mungkin menuru,namun peningkatan dalam hal  penjualan akan lebih mengimbangi kekurangan itu.”saya telah menagkap persoalannya,namun membalasnnya bahwa saya masih belum puas dengan ide pengapalan yang terlambat.

     “Semua bisnis berhubungan dengan jual beli,”ujar orang itu.”itulah mengapa ada resiko yang dilibatkan. Tujuan bisnis bukan sekedar pertumbuhan,melainkan pertumbuhan yang maksimum. Saya meminta menejer prodoksi untuk tidak sembrono dengan janji-janji pengiriman, melainkan memintaanya untuk mengambil resiko yang wajar.

Masalah pengambilan resiko yang wajar

     Kapan saja saya mengangkat tema peningkatkan pengambilan resik, saya selalu menambah kata”wajar”di depan kata resiko. Saya merasa wajib menambah peubah tersebut agar orang-orang tidak menganggap saya sedang memperjuangkan alasan untuk menjauhkan sikap sembrono. Saya tidak suka menggunakan kata”diperhitungkan” karena kata ini secara tidak langsung menyatakan tidak ada tempat bagi penafsiran atas dasar intuisi. Resiko yang wajar penuh dengan perhatian, termasuk informasoi yang di himpun tercermin melalui angka penilaiaan yang dihasilkan. Ketika anda menilai berapa banyak ketergantungan pada kecenderungan pengambilan resiko perusahaan produk-produk baru, layanan prima, pendelegasian, pemecahan masalah yang kreatif, komunikasi persoalan peningkatan kinerja dalam bidang pengambilan resiko menjadi jelas. Para menejer yang tidak malu mengambil resiko yang wajar dan bermanfaat dalam lingkungan bisnis dewasa ini sama halnya dengan parasut yang terbuka pada lontaraan kedua. Para menejer yang menghindari resiko sering kali merupaka sumber kekecewaan terhadap para karyawan mereka dan  merupakan alasan utama kurangnya kepekaan perusahaan dalam memberika tanggapan yang sangat diperlukan bagi keberhasilan atau bahkan kelangsungan hidup perusahaan,dalam dunia yang berubah kian cepat.

Mengubah kegagalan menjadi keberasilan

  1. Penuhi diri anda dengan informasi yang terus dipertahankan. Dengan memelihara informasi tentang isu-isu yang berhubungan dengan pekerjaan anda, anda bisa memperkecil keputusan anda yang harus didasarkan intuisi.
  2. Tingkatkan kecenderungan pengambilan resilo dengan menerapkan pada tantangan-tantangan yang lebih kecil terlebih dahulu. Berbeda dengan pendapat yang popular,dalam bisnis mengambil resiko lebih merupakan ketrampilan yang di peroleh dari pada sikap kepribadin.
  3. Terimalah kegagalan atas apa yang sebenarnnya merupakan pengalaman permbelajaraan. Beberapa kegagalan biasanya fatal, seperti halnya beberapa kemenangan akhir. Belajarlah untuk menghargai kegagalan. Disaat kegagalan bukan menjadi tujuan anda, selalu anda paling tidak satu pelajaran berharga yang bisa anda peti dari kegagalan itu.
  4. Pililah untuk mengambil resiko di saat waktu yang tepat. Jika tidak,anda mungkin terpaksa mengambilnnya di waktu yang tidak tepat.
  5. Perlihatkan perilaku yang anda inginkan. Jika anda ingin orang-orang yang memiliki talenta dan kemampuan di sekitar anda, biarkan mereka tahu bahwa menghargai dan mendukung pengambilan resiko yang wajar.

Sumber : 50 Kesalahan Manajemen Terbesar Oleh Mack Cathy.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *