Keluarga Kokoh, Pilar Ketangguhan Bangsa

Keluarga Kokoh, Pilar Ketangguhan Bangsa

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief mengatakan pembinaan terhadap keluarga dapat menjadi suatu benteng dan pengawas dari setiap ancaman dampak buruk globalisasi.

“Keluarga merupakan wahana ketahanan, pengendalian dan penyesuaian sosial bagi anggota-anggotanya. Untuk itu pembinaan terhadap ketahanan keluarga yang bermuara pada keluarga sejahtera dapat menjadi benteng dan pengawas terhadap setiap ancaman,”kata Sugiri Syarief dalam Konferensi Keluarga Indonesia, di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (25/6).

Ia menjelaskan keluarga juga merupakan institusi pembangunan yang sangat handal, terutama dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan keluarga merupakan pilar bangsa yang harus dipersiapkan dengan baik. “Melalui upaya pembinaan ketahanan keluarga serta penanaman nilai etika, moral, budaya sejak dini. Keluarga akan menjadi wahana yang tangguh bagi terwujudnya ketahanan nasional untuk mencapai persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Semua kepribadian dan karakter anak-anak bangsa ini terbangun dari pola keluarga sebagai unit pendidikan pertama yang memberikan dasar-dasar kepribadian seperti kejujuran, solidaritas, kecerdasan dan karakter positif lainnya. Karena itu menurut Kepala BKKBN, keluarga harus mampu bertugas dalam menjaga kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan.

“Di dalam keluarga terjadi proses pemenuhan dan pemeliharaan kebutuhan fisik dan non fisik anggota keluarga. Selain alokasi sumberdaya, pembagian tugas, sosialisasi, reproduksi, penambahan dan pelepasan anggota keluarga, pemeliharaan tata tertib, moral juga motivasi,” tambahnya.

Namun, menurutnya, kemampuan keluarga sangatlah bervariasi didalam membangun lingkungannya. Banyak keluarga justru tidak mampu menghadapi stress yang diakibatkan lingkungan (fisik, sosial dan ekonomi) hingga banyak keluarga yang justru berakhir dengan perceraian.

Di samping itu, akhir-akhir ini masyarakat sering dikagetkan dengan berbagai berita di media dan penelitian yang terkait dengan permasalahan ketahanan keluarga. Betapa kemuraman menyelimuti keluarga Indonesia, diantaranya kasus kekerasan dalam rumah tangga, tingginya angka perceraian, penyalahgunaan obat/narkotika/nafza di kalangan remaja, pembunuhan, perilaku seks bebas yang makin meningkat serta tawuran.

Ia menilai isu-isu sosial tersebut, berawal dari masalah keluarga.”Kita patut bertanya apakah masih ada peran keluarga dalam menanggulangi krisis sosial ini, apakah keluarga tidak seharmonis dulu sehingga melahirkan berbagai keprihatinan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menambahkan besar kemungkinan kondisi ini dikarenakan keluarga tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Oleh karena itu kata dia, ada beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu memperkuat delapan fungsi keluarga diantaranya, agama, sosial budaya, cinta kasih, poerlindungan, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan.

Selain itu, menata kembali manajemen keluarga. Dari pengalaman terbukti bahwa manajemen yang baik demikian sentral dan penting bagi kesehatan dan amannya keluarga.”Kokoh dan tegaknya sebuah keluarga tidak cuma diukur dari kecukupan materi dan indahnya rumah. Sebaliknya nasib keluarga juga sangat ditentukan dari bagaimana keluarga itu direncanakan, didesign dikelola dengan baik,” ujarnya.

Dengan dasar pemahaman seperti itu, konfrensi keluarga Indonesia tahun ini bertemakan “Keluarga kokoh pilar ketangguhan bangsa”. Sebuah tema yang sarat pengertian dan ajakan untuk terus menyadari betapa penting dan sentralnya keluarga.

BKKBN juga akan bekerjasama dengan semua stakeholder dan mitra kerja di Pusat dan Provinsi, untuk. mengembangkan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (P2PKS) di 33 Provinsi yang bertujuan untuk memberikan pelayanan, dan penyuluhan pada keluarga demi mempercepat perwujudan keluarga kecil bahagia sejahtera.

P2PKS akan menyelenggarakan sejumlah program seperti, pelayanan informasi dan dokumentasi kependudukan dan KB. Selain itu ada konseling kepada keluarga balita, pra nikah, remaja, lansia, KB dan kesehatan produksi, dan konseling kepada harmonis. Selain memberikan pembinaan usaha ekonomi keluarga.

“Konfrensi keluarga nasional ini juga diharapkan dapat mematangkan pembentukan komite keluarga Indonesia (KKI) sebagai forum untuk mengkaji dan memberikan solusi bagi peningkatan kualitas kehidupan keluarga Indonesia. Serta mengintegrasikan poin-poin rekomendasi sebagai penyusunan Grand Desain Pembangunan Keluarga di Indonesia,” kata Sugiri Syarief.]

Sumber : http://www.bipnewsroom.info/index.php?page=news&newsid=25157

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *