Keluarga Menjadi Faktor Penentu Kepribadian Anak

Keluarga Menjadi Faktor Penentu Kepribadian Anak

Dalam semua kondisi yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian, hubungan antara individu dengan anggota keluarganya tanpa diragukan lagi menempati posisi yang pertama. Dengan membandingkan dengan rumah, maka sekolah menempati posisi kedua (dalam hal faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian).

Rumah merupakan lingkungan yang pertama bagi individu dari mulai dia lahir sampai dia meninggal. Meskipun hal itu bisa bisa saja berubah dalam beberapa tahun, baik karena pindah rumah, menikah, perceraian, kematian, atau kelahiran anggota baru, angota dari suatu keluarga, pola kehidupan yang mereka jumpai yang juga mereka butuhkan, relatif konstan. Kebanyakan orang berpikir bahwa pengaruh dari keluarga terhadap suatu individu itu hanya terbatas ketika mereka masih kecil (anak-anak). Mereka menghormati orang tua dan saudara kandung sebagai satu-satunya anggota keluarga yang memberikan pengaruh yang utama. Keyakinan yang seperti ini harus dibantah.

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa pengaruh keluarga memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan self concept saat mereka memasuki kehidupan dewasa sebagaimana ketika mereka kanak-kanak, dan pasangan dan keturunan mereka juga memberikan pengaruh yang kuat sebagaimana pengaruh dari orangtua dan saudara kandung pada awal kehidupannya

Ada beberapa alasan yang menjelaskan mengapa pengaruh keluarga menjadi sangat dominan :
1.Waktu yang Dihabiskan di Rumah
Pengaruh keluarga terhadap kepribadian memiliki saat yang terbaik ketika dalam satu waktu semua anggota keluarga mengahabiskan waktu bersama di rumah. Jumlah waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga merupakan faktor penentu yang utama dari bagaimana orang itu selalu bersama dalam hidup anda dan seberapa besar pengaruh dari sikap, nilai, dan perilakunya akan berpengaruh kearah mana perilaku anda. Dalam waktu tertentu, sesorang normalnya banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anggota keluarganya dibandingkan yang lainnya. Waktu yang bisa diprediksi ini berlangsung selama usia prasekolah, sebelum lingkungan pergaulan anak lebih luas untuk masuk dan dipengaruhi lebih oleh lingkungan tetangga sekitarnya, dan diwaktu tuanya, ketika orang pensiun dan banyak menghabiskan waktu dibanding dengan lingkungan dikomunitasnya. Ini mengenalkan kepada kita bahwa selama usia wanita dewasa, bahkan wanita menikah yang juga bekerja, banyak menghabiskan waktu dirumah dibandingkan laki-laki.

2.Perilaku yang dikendalikan
Anggota keluarga banyak mengontol perilaku anggota keluarganya yang lain dibanding orang lain. Pada masa kecil, guru, pengasuh bayi, dan kakek-nenek merupakan pengganti orang tua yang bertindak sementara di dalam loco parentis. Bersama anggota keluarga, bahkan ketika dalam hubungan yang sejajarpun, suami dan istri banyak mengkontrol perilaku anak-anaknya, dan dalam satu wilayah kehidupan keluarga, istri lebih memberikan kontrol pada anak-anaknya dibanding suaminya, maupun bisa sebaliknya. Istri selalu mengkontrol perilaku anaknya, dan lebih dari itu, sebagai contoh, Isti akan mengkontrol uang suaminya. Prestise dihubungkan dengan posisi kewenangan untuk mengakses fasilitas memberikan pengaruh pada orang untuk mengkontrol perilaku dari orang lain. Bahkan yang lebih penting lagi, bagaimanapun, ini merupakan kontrol yang sifatnya permanen. Guru, sebagai contoh, mengkontrol perilaku anak-anak hanya beberapa jam sehari dalam lima hari seminggu selama usia sekolah. Ini berbeda dengan kontrol orang tua yang lebih luas dan lama dari tahun ke tahun selama 18-21 tahun kehidupan seseorang.

3.Hubungan emosional
Ketika anak-anak atau remaja memiliki hubungan emosi yang kuat dengan guru, teman, atau seseorang yang dikasihinya, hubungan ini jarang bersifat permanen dibandingkan dengan hubungan emosional dengan keluarga mereka. Selama itu terus bertahan, mungkin akan memberikan pengaruh yang kuat kepada seseorang mengenai konsep diri, tetapi jika ini berakhir, pengaruh itu akan menurun dengan cepatnya. Peroses yang terus menerus dari hubungan keluarga menguatkan pengaruh dari ikatan emosional. Bahkan ketika hubungan keluarga itu berakhir karena kematian, pengaruh dari anggota keluarga akan bertahan lebih lama dibandingkan ketika berlangsung kematian anggota keluarga tersebut. Sebagai contoh, anak laki-laki akan menganggap ayahnya yang meninggal sebagai seorang pahlawan, ketika dia tumbuh dewasa, ia akan meniru kembali perilaku ayahnya dalam sikap dan perilaku dalam kehidupannya.

4.Pengalaman Sosial
Awal Pada suatu waktu ketika ketika pondasi pola kepribadian telah diletakan, pengalaman sosial utama anak-anak berada dalam rumah. Ini mengapa, Glasner menyatakan: ” kepribadian itu dibentuk dalam kejadian yang pertama bersamaan dengan hubungannya dalam keluarga”. Hal tersebut berasal dari pengalaman awal bahwa anak memperoleh sikapnya, nilai, dan pola dari perilaku sosial dari keluarganya. Warnath berkomnetar; ”rumah dengan begitu, tentu saja nampak, sebagai tempat belajar bagi perkembangan keterampilan skils, dan berharap menginginkan untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas dengan yang lainnya”. Semenjak anak-anak mendapatkan pengalaman sosial awal sebagian sosial bersama orangtua mereka, ini akan mempertanyakan sikap yang berpengaruh dominan dalam aturan membentuk pola kepribadiannya. Bishop menjelaskan dalam pernyataannya: Pola dari perkembangan kepribadian anak-anak kecil telah dibentuk utamanya oleh frame work dari hubungannya dengan orangtuanya. Selam perkembangan anak-anak pada usiaa wal, aturan orangtua menjadi pengontrol pengaruh sosial dalam pengalaman anak. Teknik yang dikerjakan orangtua dalam treatment anaknya antara lain: perangsang yang mereka tawarkan, frustasi yang dipaksakkan, metode pengkontrolan, bersama dengan karakter dari sikap umum kearah pelayanan mereka sebagai kekuatan berkembang dari peilaku anak. Pola kebiasaan yang ditempa kepada anak melalui proses asimilasi dan internalisasi dalam pengalaman belajarnya. Bersama interaksi dengan, dan dikondisikan oleh, individealnya secara biologis. Kemudian, pengaruh alami dari orangtua dilengkapi oleh oleh kekuatan dari bagian lain dai lingkungan. Meskipun demikian, dalam perkembangan yang terakhir, baian dari kualitas hubungan anak-orangtua merupakan factor yang signifikan dalam penetapan yang mantap dari atribut motivasi dan kepribadian. Kegigihan dari membangun pondasi awal ini dapat diobservasi dalam pola kepribadian dari siswa sekolah. Ketika orangtua tidak memperdulikan anaknya, anakanak remaja mereka dilaporkan menjadi murung, mudah curiga, takut, tidak kuat, tertutup, resah, dan tegang. Ketika orangtua mereka memperlakukannya dengan penuh cinta, anak mereka menjadi pribadi yang terbuka, ramah, teliti, teratur, dan bahagia. Ketika orangtua mereka lalai, anak mereka menjadi serius, cepat lelah, menjauhkan diri, dan gelisah.

5.Keamanan dari lingkungan
Untuk bahagia dan aman, seseorang harus merasakan bahwa dia memiliki tempat berlabuh, tempat dimana ia dapat pergi dengan gembira dan menghilangkan duka cita dan rasa kalahnya. Tanpa tempat belindung, dia akan merasa mengambang, tidak cukup, dan tidak bahagia. Pentingnya rumah untuk anak merasakan rasa aman telah diungkapkan oleh Bossard dan Bolt: Rumah adalah tempat anak datang kembali bersama dengan pengalamnnya. Rumah merupakan sarang untuk mundur dan mencoba untuk bangkit kembali. Tahap dimana dia kembali untuk menunjukan kemenangan dari prestasinya: Tempat berlindung yang dia temukan untuk memikirkan perasaan sakitnya, nyata ataupun khayalan. Rumah dengan kata lain, adalah tempat membawa setiap harinya bermacam-macam pengalaman sosial, untuk menyaring, mengevaluasi, menilai, memahami, atau untuk dijalin, memperbesar, mengabaikan semua masalah. Studi menunjukan bahwa keluarga yang pecah karena kematian atau perceraian memberikan trauma pada setiap anggota keluarga baik bagi pasangan maupun anak. Kosep tentang diri telah rusak, pola hidup tak bisa diacuhkan telah terganggu. Kehilangan pasangan terutama mengguncang antara yang lebih tua karena hormat mereka pada pasangan merupakan sumber uatma bagi rasa ama secara emosional.

Secara langsung, pengaruh keluarga terhadap pengembangan kepribadian itu melalui pembentukan dan komunikasi. Secara tidak langsung pengaruh itu datang dari proses identifikasi, dari imitasi yang tidak sadar dari sikap, pola perilaku, dan lainnya. Dan dari bayangan diri sendiri dengan memandang anggota keluarga yang lain.

Disadur dari: Jurnal “Chapter 13 Keluarga sebagai Faktor Penentu” oleh Nunung Nursyamsiah, Program Studi Pendidikan Umum S-3 Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *