Kiat Para Dokter Jalankan Operasi Tubektomi Maraton pada Ratusan Ibu Surabaya

Kiat Para Dokter Jalankan Operasi Tubektomi Maraton pada Ratusan Ibu Surabaya

Ditemani Ridho Roma sampai Rihanna

Tiga dokter ini turut berpartisipasi dalam program tubektomi masal yang diadakan Bapemas KB Kota  Surabaya. Alhasil mereka pun berkejaran dengan waktu untuk menjalankan operasi tubektomi pada ratusan pasien. Meski demikian, itu tak mengurangi prinsip keamanannya. Berikut kiat mereka menjaga fisik dan psikis.

Suasana di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Soemitro cukup ramai Sabtu lalu (25/2). Sejak dari pintu masuk RS yang berlokasi di Jalan Serayu tersebut, berjajar ibu-ibu yang dari raut wajahnya tersirat wajah kesakitan. “Sabar ya, Bu, sebentar lagi sakitnya akan hilang,” kata seorang kader KB yang menenangkan ibu yang di dada kirinya melekat angka 100. Itu menunjukkan bahwa ibu tersebut peserta KB MOW (metode operasi wanita) yang ke-100.

Sedikit masuk ke dalam, keramaian pula yang terlihat jelas di bagian depan UGD RS itu. Bagian tersebut, yang biasanya menjadi tempat parker ambulans disulap menjadi ruangpemulihan sementara untuk pasien setelah menjalani operasi. Hanya disekat papan dan disediakan 20 brankar untuk tempat tidur pasien.

Bukan hanya itu, ketika masuk ke ruang operasi pun suasana tak kalah ramai. Di RS tersebut ada dua kamar operasi. Namun hanya satu kamar operasi berukuran 6 x 6 meter yang digunakan untuk pelaksanaan tubektomi. “Kamar operasi lain yang sengaja tak digunakan. Berjaga –jaga untuk pasien emergency,” kata dr. Mukti Arja Berlian SpPD, kepala RSAU dr. Soemitro.

Ruang persiapan operasi dan bersalin yang akhirnya dipakai untuk operasi tubektomi. Letak ruang persiapan dan bersalin terhubung dengan kamar operasi. Ada sebelas tenaga medis yang bekerja saat itu. Termasuk bidan, perawat, asisten dokter dan edr. Yudi Andriansyah SpOG M.Kes, spesialis kandungan yang terlibat.

Cara kerja tim tersebut cukup taktis. Misalnya perawat danbidan sudah mengondisikan pasien A untuk siap dioperasi. Dokter lantas mengerjakan tubektomi.

Pada saat yang sama, perawat dan bidan lain menyiapkan pasien B. Setelah mengerjakan pasien A, dokter pindah ke pasien B. Begitu seterusnya. Hingga dalam waktu empat ujam mereka bisa melakukan tubektomi pada 137 pasien sekaligus.

Proses pelaksanaannya juga cukup singkat, hanya berkisar 5 sampai 10 menit. Dimulai dari pasien menanggalkan keseluruhan baju, celana panjang, plus pakaian dalam, lalu bergantiu dengan pakaian steril. Sesuai dengan urutan nomor, ibu-ibu peserta tubektomi dipanggil satu per satu.

Ketika nomornya dipanggil, pasien lantas masuk ke ruangan yang sudah disediakan. Kemudian berbaring di tempat tidur khusus bersalin. Yang membedakan dengan bed lainnya adalah adany tempat kaki yang lebih tinggi daripada bed. Sehingga posisi kaki menekuk membentuk sudut 90 derajat.

Setelah itu, perawat membersihkan perut, kira-kira 2 cm di atas tali pusat dengan antiseptik. Lantas, bagian tersebut ditutup dengan kain steril yang lubang di bagian tengah. Ini akan memudahkan saat pembedahan (insisi). Pada waktu yang sama, bidan memasang lima alat penjepit di vagina. KEmudian, ada dokter lain yang melakukan pembiusan sekaligus memasang selang oksigen di hidung pasien tersebut.

Tindakan medis selanjutnya adalahasisten dokter menyiapkan proses insisi. Dokter Yudi lantas melakukan proses pembedahan. Alat laparoskopi dimasukkan dari lubang perut dan alat manipulator dimasukkan dari lubang vagina. “Dimasukkan alat manipulator untuk membantu mengangkat bagian rahim,” terang Yudi.

Untuk mempermudah, tempat tidur pasien pun dijungkirkan 30 derajat ke bawah dari posisi normal. “Dengan dimiringkan ke bawah, posisi organ perut yang semula mengumpul jadi satu jadi terpisah-pisah. Sehingga bisa dibedakan mana usus dan saluran telur,” terang Yudi.

Proses tersebut dilanjutkan dengan memasukkan dua slang untuk lampu dan gas. “Fungsi gas untuk menggembungkan organ dalam perut. Agar tak keliru melakukan pengikatan,” papar dokter 40 tahun itu. Setelah posisi jelas diketahui, dengan alat laparoskopi mulai diikat saluran telur bagian kanan dan kiri. Diakhiri dengan menjahit kambali bagian perut yang dibedah. LAntas mengambil semua alat medis yang digunakan. Pasien pun dipindah ke ruang pemulihan.

Tak tampak wajah-wajah tegang dari raut muka tenaga medis tersebut. Bahkan tak jarang ada salah seorang di antara mereka yang menyanyi. Maklum, wktu itu di ruang operasi memang mengalun lagu dangdut yang dipopulerkan Ridho Roma. Volume lagu tersebut terbilang sedang, tak sampai memekakkan telinga.

“Biar tidak tegang, lagunya pun nge-beat,” kata Yudi. Dokter yang merupakan staf Lanud ISwahyudi Madiun itu tak pernah lupa menyetel lagu saat berada di ruang operasi. “Sebelum operasi, iPOD saya sambungkan dengan player,” terangnya. “Kalau saya lupa, teman-teman yang mengingatkan dengan mengatakan mana sajennya,” canda dia.

Lagu yang diperdengarkan pun beragam. Selain Ridho Roma juga ada Rihanna, Beattles dan Bon Jovi. Tidak mengganggu konsentrasi mengoperasi? Dokter lulusan FK Unpad itu menggelengkan kepala. “Mendengarkan lagu membuat suasana hati jadi senang. Dampaknya, saat kerja jadi semangat. Hati-hati wajib, semangat dan rileks tak dilupakan,” tuturnya.

Dokter Sudadi Effendi SpOG, salah seorang dokter kandungan yang melakukan operasi tubektomi masal di RS PHC Surabaya (RSPS) pun tak membantah bahwa dirinya juga sering mendengarkan musik selagi di kamar operasi. Namun, ungkap dia waktu itu bangunan kamar operasi di RS Jakarta masih terkenal angker. “Kalau ada suasana yang aneh ya kami sukanya nyetel music. Supaya konsentrasi tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak diinginkan dan tetap fokus untuk mengoperasi akseptor,” uhar lelaki yang akrab disapa Dadi tersebut.

Ketika ditanya apa ada persiapan khusus untuk menjalani operasi marathon tubektomi, misalnya minum suplemen agar stamina tetap terjaga, para dokter itu pun sepakat menyatakan tidak ada. “Kalau saya rajin olahraga. Minimal tiga kali dalam seminggu ,” ungkap Yudi. Dokter berpangkat mayor tersebut mengaku masih kuat lari 10 kilometer dan bersepeda hingga 40 kilometer. Namun, untuk operasi kali ini Yudi mengaku tidak sempat berolah raga.

Sementara itu, Sofyan Rizalanda, dokter yang juga membantu operasi tubektomi di RSPS menyiasati dengan tidur yang cukup pada malam hari sebelum operasi. “Paginya saya melakukan sedikit olahraga supaya badan tidak kaku,” ucap lelaki yang kini menjadi ketua klinik KB di BKKBN Jatim tersebut. Dengan persiapan seperti itu, Sofyan bisa tahan berada di ruang operasi selama sembilan jam.

“Kalau sudah did lam kamar operasi itu rasanya konsentrasi menjadi bertambah. Apalagi kalau ada calon akseptor yang agak rewel. Kami sebagai dokter harus bisa menenangkan. Supaya nggak tegang ya saya ajak ngobrol,” tambahnya.

Namun ada kalanya Sofyan mengaku jenuh berlama-lama di kamar operasi. Tapi, hal yang sangat menghibur dirinya adalah kelakuan para akseptor yang masih dalam pengaruh obat bius. Ketika dalam keadaan setengah sadar, para akseptor cenderung berkata-kata secara spontan .

“Jenis igauan mereka juga bermacam-macam. Mulai ada yang bilang, Mas ojok ninggal (jangan meninggalkan) aku terus. Sampai dengan yang salawatan. Tapi, kebanyakan memang ngigau soal suami mereka,” beber dokter yang suka baca semua jenis buku tersebut.

Sementara Dadi yang sudah berusai 74 tahun meluangkan waktu sebentar untuk membuka buku-buku kedokteran. Hal itu dilakukan sejak pertama dia menjadi dokter hingga sekarang. “Saya juga manusia biasa ti, yang bisa lupa. Jadi malam hari sebelum operasi saya selalu buka buku-buku kedokteran,” ucapnya.

Dadi juga senang bergurau dengan timnya di sela-sela waktu operasi. Hal tersebut sudah memberinya tambahan tenaga tersendiri. “Tim operasi itu kuncinya, tapi kadang saya sempatkan untuk minum minuman yang mengandung elektrolit, kata dokter yang hobi main tenis tersebut.

Jam terbang tiga dokter tersebut dalam menangani vasektomi maupun tubektomi terbilang tinggi. Dadi misalnya, sudah melakukan tubektomi sejak 1996. Saat usianya masih muda, dia bisa melakukan 185 operasi tubektomi per hari. Dengan alokasi waktu operasi antara 5-15 menit setiap pasiennya. Bahkan pernah pada suatu waktu di Pemalang, Jateng Dadi tergabung dalam tim yang melakukan 760 operasi tubektomi dalam kurun waktu tiga hari. Sekarang di usianya yang menginjak 74 tahun dalam sehari dia sanggup melakukan sekitar 114 operasi tubektomi.

Sementara Yudi juga sudah berkali kali terlibat dalam operasi masal tubektomi di sekitar Jatim. Bahkan banyak di antaranya yang mendapatkan penghargaan dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia). “Selain di sini, pernah juga di Kediri dengan 357 ibu yang dioperasi. Pernah juga di Madiun dengan 350 pasien. Minggu lalu BKKBN Provinsi Jatim mengadakan acara serupa,” paparnya.

Pengalaman Sofyan juga tak terhitung. Sejak 2009 dia bergabung dengan klinik KB yang terdapat di BKKBN Jatim. Sejak itu intensitasnya dalam pelayanan KB menjadi kian sering. Sebab, hampir setiap hari terdapat calon akseptor yang akan ditangani. “Kalau untuk tubektomi, saya hanya sebatas dokter anastesi atau dokter yang memberikan bius saja kepada calon akseptor. Kalau vasektomi, saya bisa melakukan sendiri,” paparnya.

Sumber : Jawa Pos (28/02/2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *