Kunjungi Desa Leprak, Kepala BKKBN Tekankan Filosofi Dua Anak

Kunjungi Desa Leprak, Kepala BKKBN Tekankan Filosofi Dua Anak

Pencanangan Kampung KB  Dusun Parseh, Desa Leprak, Kec. Klabang
Bondowoso, Jawa Timur

Pasca pencanangan Kampung KB oleh Presiden RI Joko Widodo di Cirebon Jawa Barat, 14 Januari 2016 lalu, Jawa Timur terus menggalakkan upaya pembentukan Kampung KB di 38 Kabupaten/ Kota. Pembentukan Kampung KB merupakan perwujudan Nawa Cita ke 3, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah – daerah dan desa. Sekaligus tindak lanjut arahan Presiden RI agar manfaat program KB dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, dengan menggabungkan program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga serta pembangunan sektor terkait seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya dan sektor lainnya untuk mewujudkan keluarga kecil berkualitas.

Penggarapan Kampung KB fokus pada daerah miskin, padat penduduk, wilayah pesisir, terpencil dan perbatasan dengan akses pelayanan kesehatan yang minim. Sasaran utamanya keluarga, pasangan usia subur, remaja, lansia, keluarga yang memiliki balita, keluarga yang memiliki remaja dan keluarga yang memiliki lansia. Terkait kependudukan, sasarannya mengendalikan kuantitas dengan menekan pertumbuhan penduduk menjadi 1,1% serta meningkatkan kualitas penduduk. Peningkatkan kualitas penduduk dilakukan antara lain melalui pembinaan ketahanan keluarga, edukasi bagaimana merawat anak dan menjadi orangtua hebat pada 1.000 kehidupan pertama anak.

Sebagai bentuk komitmen dan dukungan pemerintah daerah terhadap program tersebut, Kamis (21/04), pencanangan Kampung KB kembali dilaksanakan di Jawa Timur yakni di Dusun Parseh, Desa Leprak, Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso oleh Bupati Amin Said Husni. Dengan pencanangan ini, 25 Kabupaten/ Kota di Jawa Timur sudah memiliki wilayah percontohan Kampung KB.

Kepala BKKBN, Surya Chandra Surapaty, yang hadir langsung dalam pencanangan Kampung KB Dusun Parseh, Desa Leprak, mengajak masyarakat untuk ikut program KB dan menekankan pentingnya ketahanan keluarga salah satunya dengan menerapkan slogan dua anak cukup.

“Kenapa harus dua? Karena jika angka rata – rata jumlah anak per wanita usia subur 2, maka penduduk tumbuh seimbang. Tapi kalau lebih dari 2 bisa terjadi ledakan penduduk. Itu akan menghambat. Walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi tetap tidak menyejahterakan rakyat. Masih tetap banyak kemiskinan. Angka kemiskinan di Indonesia saat ini mencapai 28,28 juta jiwa, tujuh kali negara Singapura. Walaupun pertumbuhan ekonomi meningkat kalau penduduknya tidak dikendalikan jumlahnya, percuma,” papar Surya.

Ditambahkan Surya, dari segi keluarga, idealnya wanita memang memiliki dua anak saja selama masa reproduksinya, dengan batasan usia hamil dan melahirkan yaitu minimal 21 dan maksimal 35 tahun.

“Wanita jangan hamil dan melahirkan sebelum 21 tahun, sel – sel reproduksinya belum siap. Bisa hamil tapi anak yang dihasilkan jadi kurang berkualitas. Dan juga jangan hamil atau melahirkan jika sudah 35 tahun, sel – sel sudah melemah. Bisa muncul penyakit dan penyulit kehamilan atau kelahiran seperti perdarahan dan pre eklamsia, jelasnya”

“Jadi masa reproduksi (wanita, red) yang ideal adalah 14 tahun. Setelah melahirkan, berikan ASI sebisa mungkin sampai 2 tahun, sehingga bayi bisa tumbuh jadi anak sehat dan berkualitas. Artinya jarak kelahiran yang bagus minimal 3 tahun atau jangan ada 2 balita dalam 1 rumah di satu waktu. Jika masa reproduksi wanita 14 tahun, dibagi dengan jarak antar kehamilan minimal 5 tahun, dapatnya dua, maka dua anak cukup,” lanjut Surya.

“Memang idealnya dalam 1 keluarga mempunyai 2 anak, agar orang tua mempunyai kesempatan untuk mendidik anak menjadi berkualitas. Masa perkembangan otak anak yang paling optimal adalah pada usia 1 – 3 tahun, imbangi dengan memberi asupan gizi yang baik, sehingga anak menjadi cerdas. Itu kesempatan kita menciptakan generasi berkualitas,” himbaunya.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Bondowoso, Amin Said Husni mengaku bersyukur di wilayahnya dapat segera terbentuk Kampung KB. “Masih banyak PR di Bondowoso, masih perlu banyak edukasi dan sosialisasi pada masyarakat untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Dan ini merupakan momentum bagi Dusun Parseh untuk menyejahterakan anggota masyarakat dari oleh dan untuk masyarakatnya sendiri,” lanjut Amin.

Amin menjelaskan, berbagai tantangan yang ditemui di wilayahnya. Antara lain 40% wilayah Bondowoso adalah perbukitan, kader – kader KB harus naik turun gunung dan berjalan jauh untuk sampai di tempat binaan mereka. Selain itu masih banyak angka pernikahan dini. Usia 16 sudah menikah, usia 18 tahun sudah bercerai, usia 20 tahun sudah menikah 3 kali.

“Itu ada dalam masyarakat kami. Untuk itulah kami terus bekerja bersama seluruh elemen masyarakat untuk memberi edukasi. Memang semua harus bersinergi, dari pucuk sampai ke akar harus saling dukung dalam pelaksanaan program KB. Pencanangan Kampung KB Dusun Parseh Desa Leprak menjadi salah satu wujud sinergi tersebut. Ini jadi percontohan pertama, nanti kita akan replikasi di desa – desa lainnya sesuai dengan masalah dan potensi masing – masing, jelasnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Dwi Listyawardani menambahkan, program Kampung KB ini memang untuk mengoptimalkan penggarapan program KB di wilayah khusus. Seperti di Dusun Parseh yang merupakan daerah terpencil, perlu ditingkatkan kesertaan ber-KB nya juga perlu penggarapan program ketahanan dan pemberdayaan keluarga, sehingga pencapaian program KB merata dan menyeluruh hingga di desa – desa.

Dusun Parseh yang berpenduduk 756 jiwa, tercatat 55 orang atau 7,3% nya saja yang memiliki akte kelahiran. Penduduk berusia 15-24 tahun yang tamat sekolah dasar hanya 46 orang. Usia kawin pertama (wanita, red) dibawah 20 tahun masih mencapai angka 229 dari 268 perkawinan. Tercatat dari 163 pasangan usia subur (PUS) yang ada, sejumlah 115 telah menjadi peserta KB dan 40 diantaranya menggunakan KB MKJP. Selain itu Dusun Parseh hanya ada 1 kelompok BKB (Bina Keluarga Balita) dan 1 kelompok BKL (Bina Keluarga Lansia), sedangkan Kelompok BKR (Bina Keluarga Remaja) , UPPKS dan Pusat Informasi dan Konseling bagi remaja belum terbentuk.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BKKBN, Bupati Bondowoso dan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur bersama – sama menancapkan papan nama gang di dusun Parseh yang dinamai Gang IUD, Gang Suntik dan Gang Implan untuk memotivasi warga Desa Leprak khususnya Dusun Parseh untuk ikut KB dan berperan aktif dalam setiap kegiatan Kampung KB.

Turut hadir dalam pencanangan, Ketua Tim Penggerak PKK Bondowoso, Forum Pimpinan Daerah, Kepala Badan PPKB, Kepala SKDP, Camat se-Bondowoso, Kepala SKPD KB Kabupaten Jember, Situbondo dan Lumajang.

Sumber : Umum dan Humas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *