Manggala Karya Kencana Untuk Bupati Banyuwangi Diserahkan

Manggala Karya Kencana Untuk Bupati Banyuwangi Diserahkan

Penghargaan Manggala Karya Kencana resmi diterima oleh Bupati Abdullah Azwar Anas, Sabtu kemarin (28/9). Penyematan penghargaan yang diberikan atas dedikasi Bupati Anas yang tinggi dalam men-support dan  menggalakkan program Kependudukan dan KB tersebut dilakukan oleh Kepala Badan Kependudukan  dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D, Sp.GK.

Penghargaan di bidang kependudukan  ini sedianya diterima bupati di Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara pada  Juni lalu. Namun karena bupati tengah menjalani umroh, penyerahan tersebut dilakukan saat ini.

Usai menerima penyematan itu, dalam sambutannya bupati mengatakan, pihaknya berusaha terus mendorong program KB bisa terlaksana dengan baik di Bumi Blambangan ini. Karena, ujar bupati, sehebat apa pun program yang dibangun pemerintah, jika jumlah penduduknya tak terkendali, akan sia-sia. “Kami membuat program subsidi gizi dan peningkatan gizi pada rakyat miskin, yang terinspirasi program yang sama yang dilakukan oleh Mexico. Namun jika mengandalkan APBD, tentulah tak akan cukup untuk meng-cover semuanya,”  ijar  mantan anggota DPR RI itu. Oleh sebab itu, imbuh  bupati, pihaknya mengambil  langkah untuk mendorong kesadaran publik dengan cara mendorong KUA dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di setiap kecamatan, untuk memberikan penyuluhan pra nikah dan khotbah nikah kepada calon mempelai, utamanya tentang gizi bagi keluarga.

Mendengar apa yang diungkapkan Bupati Anas, Fasli Jalal mengaku dirinya terkesan dengan upaya bupati yang memberikan perhatian serius pada program KB di Banyuwangi. “Dengan mengubah kantor KB di Banyuwangi menjadi Badan KB itu adalah hal yang luar biasa. Dengan begitu pelayanan masyarakat di bidang KB bisa lebih optimal,”pujinya.

Dengan percepatan bidang KB yang digagas bupati, lelaki yang juga guru besar ilmu gizi ini bahkan tertarik menjadikan Banyuwangi sebagai uji coba nasional Program Remaja Berencana. “ Apalagi Banyuwangi sudah memiliki kader Pusat Informasi dan Konseling (PIK) yang anggotanya terdiri atas  remaja, mahasiswa, serta kader Kependudukan dan KB. Kita memang perlu membentuk generasi berkualitas, yakni generasi yang punya rencana, yang percaya diri, yang mampu bersaing dimana pun dia berada. Apa yang ke depan akan kita lakukan?,” tandasnya.

Menurut Fasli, generasi muda perlu diberi pengetahuan kompetensi yang sesungguhnya. “BKKBN akan menyasar semua SMA/SMK dan institusi negeri maupun swasta, untuk melatih tokoh-tokoh yang dimiliki lembaga itu secara khusus. Nantinya merekalah yang akan menanamkan pada anak-anak muda agar tak terjerumus pada hal-hal yang tak diinginkan, seperti seks bebas dan narkoba, yang keduanya berujung pada terjangkitnya HIV/AIDS,” terangnya. Dan di setiap lembaga tersebut juga akan dibentuk tutor sebaya, dimana yang akan direkrut adalah anak-anak yang paham psikologi, di samping penguatan terhadap guru Bimbingan Konseling (BK).

Tidak itu saja, BKKBN juga akan mengadakan pendampingan sejak bayi masih dalam kandungan. Sel otak bayi terbentuk sebanyak 250 ribu per menit pada saat kehamilan. Jika ada masalah pada ibu yang mengandungnya, seperti punya pikiran yang berat setelah bertengkar dengan suaminya, sel itu tidak jadi terbentuk. Untuk menjaga agar janin tersebut tetap tumbuh dengan baik, maka kadernya akan dilatih khusus. “Hak mereka harus dipenuhi hingga berumur 5 tahun berupa kepastian gizi, pelayanan kesehatan, dan mendapatkan pendidikan usia dini. Setelah  lepas dari usia tersebut, mereka juga didampingi hingga memasuki usia remaja dan tahapan siap menikah. Sebelum menikah, mereka dibekali dengan pengetahuan sex education sesuai norma agama, dan bagaimana menjaga agar gizi keluarga bisa terpenuhi. Demikian seterusnya, siklus pendampingan akan terus dijaga. “Banyuwangi cukup pantas untuk kami jadikan pilot project program ini. Ini untuk membantu agar beban negara yang besar saat ini bisa teratasi dengan munculnya generasi muda berkualitas,” tegas Fasli disambut tepuk tangan audiens.

Kegiatan yang diselenggarakan di halaman Pemkab Banyuwangi  ini juga dihadiri oleh Deputi Bidang KS PK BKKBN Sudibyo Alimoeso, Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim Dra. Suhartuti, MM., Forum Pimpinan Daerah,  Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko dan Sekkab Slamet Kariyono. Selain itu juga pejabat komponen pemkab, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para kader PIK se- Kabupaten Banyuwangi. Dalam kesempatan itu BKKBN menyerahkan pula bantuan berupa Bina Keluarga Balita (BKB),  Kit untuk Dasa Wisma Melati, Kecamatan Giri, Alat Teknologi Tepat Guna (ATTG) berupa alat sablon untuk PIK Remaja, Obgyn Bed untuk UPTD Puskesmas Gendoh, Kecamatan Sempu dan Komunikasi Informasi dan Edukasi.

Program KB di Banyuwangi Terealisasi Dengan Baik

Sementara itu menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB (BPP&KB) Muhammad Pua Jiwa, penghargaan untuk orang nomor satu di Banyuwangi ini  diberikan atas dedikasinya yang tinggi dalam men-support dan  menggalakkan program kependudukan dan KB. Penghargaan itu sejalan dengan dinobatkannya Banyuwangi oleh Provinsi Jawa Timur pada tahun 2012  sebagai kabupaten yang program KB-nya terealisasi dengan baik. Banyuwangi berada di posisi kedua setelah Mojokerto, dan kemudian disusul Jember di posisi ketiga. Penghargaan Manggala Karya Kencana, diperoleh Banyuwangi  bersama 11 kabupaten/kota lainnya. Diantaranya Pacitan,Gresik, Ngawi, Madiun, dan Pasuruan.

Menurut Pua Jiwa, ukuran keberhasilan program KB ada 2, yaitu Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran total dan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP). TFR Banyuwangi sudah berada jauh di bawah rata-rata nasional dan provinsi ( TFR nasional sebesar 2,6 persen, Provinsi 2,3 persen dan Banyuwangi 2,07 persen). Sementara untuk LPP, Banyuwangi telah berada jauh pula di bawah nasional dan provinsi (Nasional 1,49 persen, Provinsi 0,76 persen dan Banyuwangi 0,45 persen).

Pua Jiwa menegaskan, capaian Banyuwangi itu harus dipertahankan dari tahun ke tahun. Caranya, ujar Pua, masyarakat yang belum ber-KB diajak untuk ber-KB. Selain itu mereka juga diarahkan untuk menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang seperti IUD, implant,  Metode Operasi Pria (MOP) dan Metode Operasi Wanita (MOW). Realisasi pencapaian program KB di Banyuwangi sendiri hingga 2012, dari 24 kecamatan yang ada, telah melampaui angka  100 persen. Total prosentasenya mencapai 122,9 persen. Dari 54 ribu akseptor KB yang ditargetkan, pesertanya terlampaui hingga 64 ribu.

Kunci keberhasilan program KB, tambah Pua Jiwa, dipengaruhi beberapa hal. Antara lain komitmen tinggi dari pemegang kebijakan, dukungan camat dan kepala desa, kerjasama lintas sektoral, dan penguatan kelembagaan. Bupati Anas menempatkan KB sebagai instrumen yang penting untuk mengatur laju pertambahan penduduk. Karena itu bupati melakukan penguatan kelembagaan  dengan mengubah kantor KB menjadi badan. “Ini jadi point tersendiri dalam penilaian tersebut,”beber Pua Jiwa.

Sebelum penyerahan penghargaan, paginya dilakukan pelayanan gratis MOW di Rumah Sakit Al-Huda. Sementara, secara serentak di 9 puskesmas di Kecamatan Muncar, Rogojampi, Wongsorejo, Pesanggaran, Banyuwangi dan Kalipuro juga dilakukan pelayanan semua alat kontrasepsi, termasuk juga pelayanan KB pesisir. Dan bersamaan dengan penyerahan penghargaan dilakukan pelayanan implant di halaman pemkab yang melibatkan 3 bus pendukung.

Selain itu ada pula pameran produk Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Selain menyaksikan gelar pameran UPPKS Banyuwangi, Kepala  BKKBN Pusat Prof dr H. Fasli Jalal SpGK, PhD, menyaksikan pelantikan pengurus MUI Banyuwangi yang diketuai oleh Yamin serta memberi pencerahan masalah gizi.  (AT/Humas).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *