Mari Bergandengan Tangan Guna Wujudkan Masa Depan Cemerlang Bagi Remaja

Mari Bergandengan Tangan Guna Wujudkan Masa Depan Cemerlang Bagi Remaja

Remaja memiliki peran yang cukup signifikan terhadap maju atau tidaknya suatu bangsa.
Pasalnya, jika remaja bisa melewati masa remajanya dengan baik maka kesuksesan nampaknya hanya tinggal mengikuti. Sebaliknya, jika remaja tidak melewati masa remajanya dengan baik maka masa depan bangsa menjadi abu-abu.

Sekarang, kami ingin mencoba memberikan penjelasan yang lebih gamblang mengenai fenomena yang terjadi di kalangan remaja. Pertama, pergaulan bebas remaja/seks bebas. Saat ini seks bebas adalah salah satu masalah yang melanda remaja di indonesia. Hal ini terjadi karena pergaulan bebas, pengaruh media, keadaan lingkungan masyarakat, tidak berpegang teguh pada agama dan kurangnya perhatian orang tua. Remaja mudah terpengaruh dan mengikuti hawa nafsu karena tidak di bentengin oleh iman yang kuat. Remaja di Indonesia telah terbukti mulai melakukan hubungan seks pada usia muda.

Sebesar 46 persen remaja berusia 15-19 tahun sudah berhubungan seksual. Data Sensus Nasional bahkan menunjukkan 48-51 persen perempuan hamil adalah remaja.  Sungguh ironis melihat fenomena tersebut. Remaja yang harusnya fokus belajar dan menyiapkan masa depannya dengan baik, mereka harus dengan terpaksa menerima kenyataan bahwa ada janin yang kadang tidak mereka inginkan. Alhasil, banyak dari mereka yang putus sekolah bahkan lebih parahnya lagi mereka nekat melakukan aborsi.

Fenomena pergaulan bebas ini juga turut menyumbang terjadinya pernikahan dini. Berdasarkan data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, terungkap angka perkawinan dini di Indonesia peringkat kedua teratas di kawasan Asia Tenggara.  Sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta orang pada 2030.

Banyak dari remaja berusia < 21 tahun memilih untuk menikah dengan berbagai alasan. Padahal, masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh remaja guna meraih sukses ke depannya. Selain itu, banyak hal yang harus dipersiapkan menuju jenjang pernikahan, baik dari sisi ekonomi, psikologi dan kesehatan reproduksi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Surya Chandra Surapaty menjelaskan dari sisi kesehatan.  Dia mengatakan, leher rahim remaja perempuan masih sensitif sehingga jika dipaksakan hamil, berisiko menimbulkan kanker leher rahim di kemudian hari. Risiko kematian saat melahirkan juga besar pada usia muda. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 menunjukkan, 48 orang dari 1.000 remaja putri usia 15-19 tahun sudah melahirkan.

Lebih lanjut, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Budi Wahyuni, menjabarkan, dari kasus-kasus yang ia tangani, umumnya orangtua menganggap anak bisa melanjutkan pendidikan setelah menikah dengan mengikuti Kejar Paket A, B, dan C. Ia mengatakan, anak-anak yang menikah mengaku lelah karena dipaksa mengurus keluarga.

Ketiga, saat ini juga sedang marak fenomena penyuka sesama jenis. Fenomena ini masih menjadi kontroversi di Indonesia pasalnya bertentangan dengan agama, adat dan budaya yang ada di negara ini. Berdasarkan data Tahun 2014, di kota Depok saja tercatat penyuka sesama jenis sebanyak 4.932. Dan tahun 2015 meningkat menjadi 5.791 LSL (Lelaki Suka Lelaki).  Ini masih di satu kota, belum ditambah jumlah di kota lain. Sungguh sebuah fenomena yang mencengangkan banyak pihak.

Ketiga fenomena diatas hanyalah sekelumit fenomena-fenomena yang terjadi di kalangan remaja. Jika ditelisik apa, siapa dan mengapa hal-hal tersebut terjadi nampaknya tidak akan ada ujungnya. Yang kita perlukan saat ini adalah kerjasama dan tekad yang kuat dari Orang tua, pihak sekolah, instansi pemerintah dan seluruh pihak yang berkaitan untuk menjaga agar para remaja terhindar dari hal-hal negatif sehingga mereka bisa melewati masa remajanya dengan baik dan bisa mewujudkan masa depan yang cerah.
Adalah menjadi salah satu tugas BKKBN untuk peduli terhadap para remaja. Melalui program Generasi Berencana (GenRe), BKKBN ingin mengajak para remaja untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan positif. Program GenRe merupakan program dari, oleh dan untuk remaja. “Melalui program GenRe, para remaja dibekali berbagai skill baik life skill maupun social skill sehingga para remaja bisa menjadi orang sukses kedepannya,” tutur Dr. Sudibyo Alimoeso, MA saat live talkshow dengan radio Sonora Surabaya pada 9 Februari 2016.

Program GenRe diwujudkan salah satunya melalui kegiatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK R/M). Disini, remaja akan banyak mendapatkan informasi dan konseling secara gratis dari pendidik atau konselor sebaya yang notabene merupakan remaja juga.  Selain itu, para remaja yang aktif di PIK akan selalu dilibatkan di event-event baik skala nasional atau internasional.Sehingga dengan banyak terlibatnya remaja di kegiatan-kegiatan positif, diharapkan remaja bisa terhindar dari pergaulan yang salah dan mereka bisa jadi remaja tangguh yang bisa mempersiapkan masa depan dengan baik. “Manfaat dari program GenRe adalah agar remaja bisa melewati masa transisi dengan baik; bisa sekolah setinggi mungkin; cari kerja secara kompetitif; bisa merencanakan pernikahan dengan baik serta bisa jadi anggota masyarakat yang baik,”tambah Sudibyo.

Menanggapi berbagai fenomena kenakalan remaja, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc, Dip.Com mengutarakan pendapatnya. Menurutnya, pendampingan orang tua ke remaja harus lebih intensif. “Kalau anak sudah beranjak remaja jangan dimarahi, tapi didampingi sambil diberi nasihat tetang bahaya berhubungan badan sebelum waktunya,” ungkapnya saat menjadi narasumber talkshow radio Sonora Surababaya pada 9 Februari 2016.

Senada dengan Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Elly Risman yang merupakan psikolog pemerhati parenting ini juga mengungkapkan pandangannya berkenaan dengan maraknya kasus pornografi yang sudah melanda anak-anak. Kehadiran gadget bisa menjadi ancaman yang serius dalam menyebarluaskan arus pornografi. Oleh karena itu, orang tua memegang peran penting agar anak tidak terpapar pornografi.

Sementara itu, Sudibyo memiliki pandangan dan masukan agar para remaja di daerah-daerah terhindar dari hal-hal negatif. “Banyakin ruang terbuka yang terang. Hal ini bisa meminimalisir aktivias negatif remaja. Di taman terbuka para remaja bisa menyalurkan aktivitas yang positif,” ungkapnya.

Teruntuk semua orang tua, marilah kita intropeksi diri kita. Apakah kita sudah menjadi sahabat bagi anak-anak kita? Ataukah malah gadget yang selalu jadi sahabat kita dan akhirnya anak kita terabaikan dan mereka terjerumus kedalam hal-hal negatif? Mereka adalah penerus bangsa, mereka butuh pendampingan agar mereka bisa menjadi generasi yang cerdas. Kalau anak kita berhasil dan sukses di kemudian hari, kita juga nanti yang akan bangga.
Sebelum semuanya terlambat, mari bersama bergandengan tangan untuk mencegah arus pergaulan bebas. Dan, berikan pemahaman-pemahaman positif mengenai hak dan kodrat sebagai manusia secara normal yang sesuai dengan kaidah agama yang dianut dan tidak menyimpang.  Biarkan anak kita mewujudkan cita-citanya setinggi mungkin tanpa harus memaksakan mereka untuk menikah dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *