Minim, Ber-KB Usai Melahirkan

Minim, Ber-KB Usai Melahirkan

 

Surabaya – Memilih dan memasang alat kontrasepsi memang bisa dilakukan kapan saja. Termasuk setelah melahirkan. Hanya, di Kota Pahlawan ini antusiasme perempuan untuk ber-KB setelah melahirkan tergolong kecil.

Berdasar data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana ) Jatim, di Surabaya, pada Januari sampai Juli hanya terdapat 1.037akseptor KB pasca persalinan. Angka tersebut jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan seluruh akseptor baru KB yang mencapai 50.366.

“Memang hanya 2,06 persen di Surabaya. Angka yang kecil bila dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Misalnya di kota kecil seperti Nganjuk, ada 5.193 perempuan yang mau KB setelah melahirkan dari total 22.820 akseptor baru tahun ini,” ungkap Djuwartini, Kepala BKKBN Jatim.

Perempuan yang akrab disapa Tini itu mengatakan, ada ketakutan tersendiri bagi para perempuan untuk langsung ber-KB setelah melahirkan. Memang terdapat beberapa efek samping. Misalnya yang sering terjadi pada jenis KB IUD Post Placenta. Setelah melahirkan, IUD langsung dimasukkan lewat vagina. NAmun, saat itu mulut rahim belum tertutup rapat sepenuhnya. Akhirnya IUD bisa keluar dengan sendirinya.

Lagi pula, lanjutnya, belum banyak perempuan yang mengetahui prosedur ber-KB. Apalagi, Surabaya merupakan kota besar yang tidak semua penduduknya menggunakan JAmpersal. Sebab, bila ikut Jampersal para PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) akan menggiring ibu hamil untuk memilih KB yang pas. Misalnya, ibu muda yang masih ingin mempunyai anak bisa direkomendasikan untuk memilih IUD. Namun, untuk ibu yang sudah punya anak, PLKB akan mengajaknya supaya mau melakukan KB permanen atau MOW.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr. Esty Martiana Rachmie menambahkan, memasang alat KB setelah  melahirkan memang bukan persyaratan untuk mengikuti Jampersal. NAmun, hal itu tetap menjadi PR bagi para PLKB untuk membangun relasi dengan calon akseptor KB.

Sementara itu, Kepala Bidang KB dan KS (Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera) Bapemas KB, Snae Steffanus mengakui, kelemahan sementara ada pada konseling antara PLKB dan para calon akseptor. Selama ini belum terjadi komunikasi yang baik. “Upaya konseling, merayu, menggiring, menggiring ibu hamil itu selalu ada. Tapi, memang tidak gampang meyakinkan mereka,” ucapnya.

Sumber : Harian Jawa Pos (Rabu, 17 Oktober 2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *