Penderita Kadiovaskuler Meningkat Pemerintah Diminta Segera Lakukan Intervensi

Penderita Kadiovaskuler Meningkat Pemerintah Diminta Segera Lakukan Intervensi

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah diminta segera melakukan intervensi terhadap upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah mengingat jumlah penderitanya terus meningkat di dunia.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler (PP PERKI) Prof DR.Dr. Rochmad Romdoni SPPD,SPJp mengatakan itu pada acara pelantikan PP PERKI dan penandatangan MoU dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Jakarta, Minggu (8/7).

Prof Romdoni menjelaskan, dibanding dengan negara lain seperti Amerika, Australia dan Firlandia jumlah kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah terus meningkat sebesar 20%, walaupun telah melakukan upaya preventif dan promotif (pencegahan).

“Intinya upaya pencegahan di Indonesia tidak berjalan maksimal. Karenanya, dibutuhkan sebuah campur tangan dari berbagai kalangan termasuk pemerintah untuk melakukan sebuah terobosan agar penderita penyakit jantung semakin menurun,” jelas Prof Romdoni.

Prof Romdoni menjelaskan bahwa penderita penyakit jantung tidak melulu harus diberikan pengobatan. Penyuluhan akan bahaya dan pencegahan dinilai juga sangat efektif untuk menurunkan resiko terkenanya penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Upaya pengobatan saja tidak ada habisnya. Habis berjuta-juta tidak ada gunanya, kalau tidak ada penekanan ke bawah tentang bagaimana bahaya penyakit jantung dan pencegahannya.

Menurut Prof Romdoni yang perlu dilakukan adalah terus melakukan sosialisasi mengenai upaya program pencegahan penyakit kardiovaskuler melalui kerjasama dengan pemerintah setempat seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Informasi dan Komunikasi, serta BKKBN.

“Hal ini amatlah diperlukan agar seluruh lapisan masyarakat mengetahui apa itu penyakit jantung koroner, penyebabnya dan faktor resiko seperti kolestrol, dan pencegahannya,” tambah Prof Romdoni.

Lebih lanjut Prof Romdoni mengungkapkan kerjasama dengan BKKBN nantinya diharapkan agar tercipta sebuah keluarga kecil, sejahtera, sehat, dan jauh dari risiko terserang penyakit jantung karena sudah menerapkan pola-pola hidup sehat melalui sosialisasi yang jelas.

“Yang terpenting kita harus tahu apa itu faktor resiko penyakit jantung baru setelah itu melakukan upaya pencegahannya dengan mengkonsumsi makanan sehat dan olahraga teratur,” urai Prof Romdoni.

Sementara itu, Inspektur Utama BKKBN Dra. Mieke Selfia Sangian menjelaskan dengan kerjasama ini diharapkan agar terwujud sebuah keluarga kecil bahagia sejahtera melalui program ketahanan keluarga dengan pencegahan penyakit kardiovaskuler melalui berpola hidup sehat.

“Hal ini terkait dengan perhatian kita untuk tidak mengabaikan kesehatan sehingga penyakit jantung dan pembuluh darah dapat dicegah dan tidak berdampak besar pada jangka panjang,” ungkap Mieke. [mor]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *