Persepsi Orang Tua Tentang Anak

Persepsi Orang Tua Tentang Anak

Pernakah anda berada dalam sebuah kereta api kilat?coba bayngkan anda berada dalam kereta api kilat yang tirai jendelanya di tutup rapat. Sejauh jauhnya kereta tersebut berjalan,yang bisa anda lihat hanyalah apa yang ada dalam gerbong kereta tersebut.seandainya kerete melalaui sebuah rel melingkar yang membawahnya kembali ketempat semula pun anda tidak akan pernah tau.

Setelah keluar dari pintu kereta barulah Anda menyadari ternyata Anda tidak kemana mana alias kembali ketempat semula

Begitulah presepsi bekerja mengunci pemikiran kita.Ketika kita mempunyai persepsi tentang suatu hal, pemikiran kita akan mengikuti alur tertentu seperti kereta berjalan diatas rel.

Yang lebih berbahaya adalah kita sering menganggap bahwa hal yang berada di luar jalur pemikiran kita berarti tidak masuk akal.Ini seperti Anda berada dalam kereta api kilat yang tertutup tirainya.Apakah Anda bisa melihat pepohonan,tiang tiang telfon atau listrik,sawah sawah yang dilalui?Apakah Anda bisa melihat barisan perbukitkan atua pegunungan?

Ya,tentu anda tidak bisa melihat karena tirai tertutrup rapat.tetapi apkah yang tidak bisa Anda lihat berarti tidak ada?Tidak!

Persepsi adalah cara pandang kita terhadap suatu hal.persepsi terbentuk karena pengalamn hidup yamg mengkristal manjadi pemikiran pemikiran.dan pemikiran ini tersimpan dalam pikiran bahwa sadar kita menjadi semacam system operasi yang menggerakan tindakan kita.

Setalah presepsi dari suatu hal terbentuk,kita sering terbelenggu olehnya.kita seperti dalam seperti gelombang kereta api yang tirai jendelnya tertutup rapat. Sejauh mata memendanng yang terlihat adalah deretan kursi penumpang beserta penumpang yang ada saat itu.

Bagaimana hubungannya dengan mendidik dan mengasuh anak? Persepsi kita sangat mempengaruhi cara kita mendidik dan mengasuh anak.

Orang tua A memiliki persepsi bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dipelihara dengan penuh kebijaksanaan serta dicintai dengan sepenuh hati.

Orang tua B memiliki persepsi bahwa anak akan menimbulkan masalah dan merepotkan dirinya. Oleh karena itu, mereka harus mendidik dengan penuh kekerasan sehingga mampu mandiri di usia kecil. Seorang ibu yang sangat kenal memiliki pandangan seperti ini sehingga ia meminta anaknya yang kelas 1 SD untuk pulang pergi sekolah dengan naik kendaraan umum sendiri. Padahal, jarak sekolahnya dari rumah sekitar 8 kilometer dan si anak harus 2 kali naik angkutan kota.

Orang tua C mungkin memiliki persepsi bahwa anak adalah hasil samping dari sebuah perkawinan. “pak, jika kita sudah memutuskan untuk menikah, punya anak itu sih wajar. Mau gak mau kita harus terima. Setelah itu tinggal beri makan dan penuhi segala kebutuhannya bereslah tugas saya!” itu adalah salah satu pendapat dari seorang peserta seminar saya.

Apakah persepsi Anda sendiri tentang anak Anda? Apakah Anda sering, dalam hati, mengharapkan anak memahami anda? Atau bahkan meminta anak untuk memahami anda?

Ambillah waktu bersama pasangan Anda untuk merenungkan kembali makna anak bagi Anda berdua. Tuliskan di atas secarik kertas dan diskusikan dengan pasangan Anda. Ini adalah hal yang sangat penting dan mendasar. Jika anda ingin melihat anak anda bahagia dalam menjalani hidupnya lakukan hal ini.

Walaupun pengetahuan kita tentang tumbuh-kembang anak memadai namun persepsi awal kita salah, kita tak akan pernah mendapatkan apa yang kita inginkan. Ingat cerita tentang kereta api tadi. Sejauh-jauhnya kereta tersebut berjalan jika semua tirai jendelanya ditutup rapat, kita hanya bisa melihat deretan kursi dan penumpang yang ada dalam kereta saat itu.

Persepsi anda terhadap anak akan menentukan kehidupan masa depan seperti apa yang akan ia jalani. Tuhan menetapkan takdir yang bagus bagi setiap anak yang dilahirkan ke dunia. Namun, jika kita tidak memelihara dan menjaga takdir tersebut, anak-anak kita kemungkinan akan menjalani nasib yang berbeda-beda dari takdirnya.

“Tuhan menetapkan takdir yang bagus bagi setiap anak yang dilahirkan ke dunia. Namun, jika kita tidak memelihara dan menjaga takdir tersebut, anak-anak kita kemungkinan akan menjalani nasib yang berbeda dari takdirnya.”  Ariesandi S

 

 

Banyak orangtua membesarkan anak pada persepsi “ketakutan”. Takut sesuatu yang buruk akan menimpa anaknya. Takut melakukan kesalahan yang sama dengan orangtuanya dulu dan berjanji untuk tidak mengulangi tindakan yang dilakukan orangtuanya saat mereka (sang orangtua) masih kecil.

Saya banyak menangani klien dengan jenis ketakutan seperti ini. Pak Kevin, tentu saja bukan nama sebenarnya, mengetahui dengan sangat jelas dan sesadar-sadarnya bahwa melakukan kekerasan pada anak bisa berakibat negatif pada diri sang anak. Hal ini didasarkan pada pengalamannya sendiri ketika dipukul oleh orangtuanya. Sakit hati itu tanpa disadarinya masih terbawa hingga sekarang, walau ia mengatakan bahwa ia sangat mencintai kedua orangtuanya.

Saat menikah ia mengatakan pada istrinya bahwa ia tidak akan menjadi seperti ayahnya yang dulu memperlakukan dirinya “kurang manusiawi”. Ia menyadari betul betapa sakit perasaannya ketika ia dulu dipukul. “apakah tidak ada cara lain selain ini?” demikian yang selalu ia tanyakan pada diri sendiri ketika menerima pukulan itu dengan “penuh ketulusan dan kepatuhan”.

Namun, apakah yang terjadi ketika ia punya anak? Tepat seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Hatinya berteriak dan menjerit tak berdaya setiap kali ia selesai memukul anaknya. Ia bisa merasakan sakit hati anaknya. Namun, seakan ada sebuah kekuatan gaib yang mendorongnya untuk memukul seperti yang dilakukan ayahnya dulu. “Apakah ini kutukan bagi keluargaku? Mengapa aku melakukan ini pada anakku? Ohhhhh Tuhan tolonglah aku menjadi ayah yang baik!” demikian jeritan hati kecilnya yang hampir putus asa.

Bertahun-tahun ia berusaha menjadi seorang ayah yang baik. Ia tidak ingin menjadi seperti ayahnya dulu tetapi sekarang apa yang terjadi adalah apa yang ia takutkan.

Persepsinya tentang mendidik dan mengasuh anak sangat dipengaruhi caranya dibesarkan oleh kedua orangtuanya. Motivasinya bertindak lebih banyak didasari rasa takut. Takut bahwa dirinya tidak bisa bertindak baik dan benar sebagai seorang ayah. Takut bahwa masa depan anaknya bisa kacau gara-gara perlakuan yang ia berikan pada sang anak.

Bagaimana dengan persepsi anda sendiri?

Sumber: Rahasia Mendidik Anak Agar  Sukses dan Bahagia

(Ariesandi S, CHt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *