Siapkan Generasi Berkualitas, BKKBN Gencarkan PUP

Surabaya – Deputi Bidang Latbang BKKBN, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Bupati Pamekasan, Rektor Universitas Madura dan Ketua TP PKK Kab. Bangkalan, duduk bersama dalam acara Talkshow Gemari Semanggi dengan tema “Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), Kunci Siapkan Generasi Berkualitas” di Studio II TVRI pada Rabu (18/09) kemarin.

Remaja merupakan kelompok penduduk dengan jumlah besar. Satu dari empat penduduk Indonesia adalah remaja. Data proyeksi penduduk menunjukan, jumlah remaja (usia 10-24 tahun) di Indonesia mencapai lebih dari 66 juta atau 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Dikaitkan dengan bonus demografi, Deputi Latbang BKKBN, Prof. drh. M. Rizal Martua Damanik menjelaskan, “Bonus Demografi puncaknya akan terjadi tahun 2028-2031. Remaja saat ini, akan menjadi penduduk usia produktif saat bonus demografi terjadi. Artinya remaja ini merupakan calon aktor atau pelaku pembangunan saat bonus demografi terjadi. Remaja ini nantinya juga akan memasuki fase kehidupan berkeluarga, berperan sebagai suami, istri sekaligus orang tua bagi anak – anak yang akan dilahirkannya”.

Disisi lain, penduduk kelompok umur remaja rentan problematika. Persoalan pubertas atau kematangan seksual semakin cepat, menjadikan remaja rentan terhadap perilaku seksual beresiko yang dapat berakibat pada pernikahan dini, kehamilan di usia dini, kehamilan tidak diinginkan, hingga penyakit menular seksual.

“Salah satu upaya BKKBN untuk meningkatkan ketahanan remaja adalah melalui program Generasi Berencana atau Genre. Dengan Genre kita berharap perilaku remaja bersih dari pergaulan bebas, bersih dari narkoba, dan terhindar dari pernikahan dini. Oleh karena itu di Jawa Timur ini kita bangun Genre, agar remaja bisa merencanakan dengan baik pendidikanya, kapan bekerja dan juga berkeluarga. Harapan kita dengan demikian para remaja ini sejahtera nantinya,” terang Yenrizal.

“Nikah dini adalah persoalan hulu, apabila tidak disiapkan, akan menimbulkan banyak permasalahan di hilir. Contohnya jika membahas stunting, angka stunting di Jawa Timur cukup besar. Stunting bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan calon orang tua sebelum berumah tangga. Bagaimana mengoptimalkan tumbuh kembang anak, sejak dalam kandungan selama 9 bulan 10 hari, memberikan asupan gizi yang cukup dan pola pengasuhan 2 tahun sesudahnya jadi faktor penentu kualitas anak nantinya. Sebagaimana kita tahu, Jawa Timur menempati urutan pertama Provinsi perkawinan dini kurang dari 16 tahun, dan angka perceraian juga tinggi, ” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Bangkalan, Zainab Zuraidah Abdul Latif mengatakan,  siap mendukung pencegahan stunting di wilayahnya. “Alhamdulillah sampai saat ini kami sudah terjun ke 281 desa, menghimbau agar Posyandu terus digiatkan untuk membantu mengurangi angka stunting dan gizi buruk. Tentunya kami juga bekerja sama dengan Muslimat, Fatayat, tokoh setempat dan kader – kader PKK yang lama vakum kita ajak bergabung kembali. Dan kita pantau melalui rapat yang saya pimpin serta saya evaluasi secara langsung setiap bulan.”

Menurut Bupati Pamekasan, H. Badrut Tamam, S.Psi, ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran tidak hanya di Pamekasan namun hampir di seluruh wilayah Madura. Yaitu masifnya terpaan arus teknologi informasi yang belum diimbangi dengan akses informasi kesehatan reproduksi, perkembangan seksual dan penyiapan kehidupan keluarga dari sumber terpercaya yang bisa mencapai level grassroots.

“Hal ini berusaha diatasi sejak tahun 2016 melalui sosialisasi edukasi 3 pilar utama, di sekolah, pesantren dan masyarakat umum. Namun saat ini terkendala persoalan baru, dengan diberlakukannya pengalihan kewenangan jenjang Pendidikan SMA atau sederajat dari pemerintah kabupaten/ kota ke provinsi. Sehingga terjadi kenaikan angka pernikahan dini di Pamekasan di tahun 2018. Artinya edukasi pendewasaan usia perkawinan melalui sekolah – sekolah ini sangat efektif. Dibarengi edukasi kepada orang tua,” jelas Tamam.

“Program Genre ini dilakukan melalui pendekatan langsung ke individu dan keluarga. Edukasi kepada remaja melalui PIK-R (Pusat Informasi Konseling Remaja) di sekolah, perguruan tinggi hingga pondok pesantren. Pendekatan melalui orang tua atau keluarga remaja dilakukan melalui kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR). Saat ini, terdapat 23.579 PIK Remaja yang tersebar di 34 provinsi. Sedangkan di Jawa Timur sampai dengan Juli 2019 sudah terbentuk 3.157 kelompok PIK Remaja yang tersebar di 38 wilayah Kabupaten / Kota,” pungkas Deputi Latbang di penghujung bincang – bincang Semanggi TVRI.