Spirit Keluarga Ramah Anak

Diposting 3-Agu-2016 Oleh

Kasus kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak akhir-akhir ini menyedot perhatian publik. Bahkan, respons Presiden Joko Widodo sangat serius hingga menerbitkan Perppu No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Hiruk pikuk aktivitas umat di Ramadhan diselipkan isu-isu kekerasan terhadap anak dengan pendekatan keagamaan. Kondisi ini tentu sangat tepat, apalagi agama dapat berfungsi sebagai motif intrinsik (dalam diri) dan ekstrinsik (luar diri) bagi pembentukan perilaku umat.

Motif yang didorong keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama, baik doktrin maupun ideologi. Corak motif agama ini tentu menjadi daya panggil yang tinggi bagi umat dalam kerangka pembudayaan perlindungan anak di masyarakat.

Salah satu perilaku negatif yang penting menjadi perhatian adalah bagaimana “menceraikan kebiasaan” melakukan kekerasan digantikan dengan sikap dan tindakan yang ramah anak. Apalagi, fenomena kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak terjadi masif.

Keluarga merupakan fondasi awal tumbuh kembang anak. Pola interaksi, sikap, dan perilaku ayah bunda, kakak, kakek, nenek, bahkan pengasuh turut memengaruhi perkembangan anak. Meski vital, tidak semua keluarga Indonesia menjadikan keluarga sebagai laboratorium tumbuh kembang yang ramah anak.

Survei Komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan, dari 1.026 anak yang disurvei, 38 persen anak mengaku sering mengalami kekerasan oleh ibunya, 35 persen dilakukan oleh ayah, sisanya oleh saudaranya. Menurut Jessor dalam teori problem behavior, terbentuknya perilaku menyimpang pada anak sejatinya dipengaruhi tiga aspek: nilai individual, harapan, dan keyakinan. Pola pengasuhan keluarga sangat berpengaruh pada ketiga aspek dimaksud.

Jika anak dididik dengan kekerasan, bahkan pola pembiaran, akan berisiko besar membentuk sistem nilai yang diyakini oleh anak. Terkonfirmasi, hasil pengawasan KPAI pada 2015 di tujuh provinsi dengan sampel 134 anak berhadapan dengan hukum (ABH) ditemukan potret kasus berikut: sebagai pelaku pencurian 32 persen, pelaku kekerasan seksual 30 persen, pelaku pembunuhan 21 persen. Kecenderungannya, faktor kondisi keluarga cukup berpengaruh terhadap tingginya tindak pidana oleh anak.

Berkeluarga tentu bukan sekadar berhimpun, melainkan filosofinya memiliki visi besar untuk tujuan masa depan yang lebih baik. Ki Hajar Dewantara berpendapat, keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang terikat, mengerti, dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, nyaman, dan berkehendak bersama-sama memperteguh untuk memuliakan anggotanya.

Segala bentuk sikap dan tindakan yang bermuatan kekerasan tidaklah lazim terjadi dalam lingkungan keluarga dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi, baik tujuan pendisiplinan, pembentukan mental, pendidikan, maupun alasan lain.

Keluarga ramah anak merupakan jawaban atas beragam masalah relasi dan pola pengasuhan. Upaya untuk mewujudkan keluarga ramah anak meliputi, pertama, bangun persepsi dalam keluarga bahwa anak bukan “miniatur manusia”, melainkan “manusia seutuhnya” yang mengalami proses tumbuh kembang.

Persepsi bahwa anak sebagai aset keluarga masa depan sering menimbulkan sikap yang salah terhadap anak dan memosisikan anak bukan sebagai subjek. Pemaksaan kehendak orang tua dalam segala hal, minimnya pelibatan anak dalam menemukan solusi atas masalah pandangan dalam keluarga, atau minimnya pelibatan anak dalam pengambilan keputusan merupakan sebagian dampak dari pandangan yang salah terhadap anak.

Kedua, pastikan keluarga memberikan jaminan pemenuhan hak dasar anak, seperti nama dan identitas, sekolah yang ramah anak, kesehatan yang komprehensif, pangan yang sehat dan bermutu, lingkungan rumah yang sehat, hak sosial dan beragama, bermain dan memanfaatkan waktu luang, serta hak mendapatkan perlindungan khusus.

Anak korban kejahatan seksual sering kali dipandang sebagai aib oleh keluarga. Padahal, mereka berhak mendapatkan perlindungan khusus agar kelak dapat bangkit dan pulih kembali.

Ketiga, pastikan lingkungan keluarga nyaman dan aman untuk semua anak tanpa potensi, apalagi bermuatan kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak memiliki keunikan dan kecenderungan berbeda.

Namun, terkadang orang tua sering menerapkan pola dan pendekatan yang sama dalam layanan hak dasarnya serta pola pengasuhan antara anak yang satu dan lainnya. Adanya diferensiasi pada anak tentu perlu didekati dengan pola yang berbeda pula.

Pola individual yang selalu melihat sisi keunikan, kebutuhan, kecenderungan, dan bakat minat masing-masing merupakan kelaziman yang dapat mengantarkan anak merasa nyaman dalam keluarga dan tumbuh kembang dengan baik.

Keempat, pastikan anak dapat menyampaikan pandangan dan pendapatnya. Akomodatif terhadap perasaan, ide, usulan, atau kritik, bahkan curhat dari anak seyogianya menjadi hal biasa dalam pola relasi sehari-hari.

Namun, tidak semua orang tua merasa nyaman dengan kondisi itu. Padahal, dengan mendengarkan pandangan anak, sangat membantu orang tua memahami kata hati anak dan visi hidupnya akan terbaca saat pernak-pernik komunikasi keseharian. Semakin orang tua open minded, anak akan semakin nyaman.

Kelima, pastikan ada waktu untuk membangun kehangatan dengan anak. Banyak cara yang bisa ditempuh, misalnya, bermain bersama, rekreasi, atau mengalokasikan waktu makan bersama anak. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Family Psychology menunjukkan, rutin makan bersama keluarga bisa membuat anak berperilaku baik dan lebih berkonsentrasi di sekolah.

Menurut peneliti dari University of Oklahoma dan Oklahoma State University di Oklahoma, Amerika Serikat, anak yang rutin makan bersama keluarga memiliki kemampuan sosial lebih baik, lebih berkonsentrasi, dan jarang bermasalah di sekolah.

Keenam, pastikan anak didampingi saat menonton televisi atau dipilihkan acara ramah yang tepat untuk usia anak. Televisi satu sisi bersifat informatif, edukatif, dan menghibur, tapi di sisi lain tak semua acara televisi tepat untuk segala usia.

Menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada 2014, dari 355 pelanggaran, ada 168 tayangan bermuatan kekerasan atau 47,32 persen. Seluruh anggota keluarga perlu mendampingi anak untuk memastikan acara yang terbaik. Termasuk, memberikan literasi agar anak memiliki daya filter memilih acara yang sesuai.

Ketujuh, pastikan anak memilih game edukatif. KPAI mencatat, 95 persen pusat perbelanjaan di Indonesia menampilkan permainan anak yang tidak mendidik sehingga mengancam perilaku dan psikologi anak. Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota terbanyak menampilkan permainan itu. Permainan kurang mendidik, di antaranya bermuatan kekerasan, perjudian, termasuk kategori pornografi.

Dengan tantangan dan dinamika global, untuk mewujudkan keluarga ramah anak dengan berpijak pada tujuh pilar ini tidaklah mudah. Namun, usaha dan komitmen positif merupakah proses yang sangat bernilai.

Bahkan, Mahatma Gandhi pernah pernah mengatakan, “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan hakiki.” Semoga spirit Ramadhan dapat menjadi panggilan nilai menjadikan keluarga Indonesia melakukan yang terbaik untuk anak.

Susanto
Wakil Ketua Komisi perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/06/20/o9264624-spirit-keluarga-ramah-anak

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kategori



Archieve



Tag