Tiap Tahun, 65.000 Keluarga di Jatim Berantakan

Tiap Tahun, 65.000 Keluarga di Jatim Berantakan

Setiap tahun kurang lebih ada 65.000 keluarga di Jawa Timur berantakan, aliasbercerai. Banyaknya keluarga yang bercerai initerjadi sebagian besar karena perselingkuhan, belum siap berkeluarga, kurangnya komunikasi sampai pada masalah ekonomi dan lain sebagainya.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Urusan Agama Islam Departemen Agama Jawa Timur H. Nurcholis, SH, M.Ag ketika memberikan sambutan mewakili Kepala Depag Jatim pada acara Need Assesment Penyusunan Panduan Khusus Penggarapan KB di Daerah Tertinggal Kepulauan di Hotel Oval Surabaya (20/12).

“Kami memiliki program membangun keluarga sakinah, namun nampaknya belum cukup untuk membantu keluarga menjadi keluarga sakinah. Dengan disambungnya silaturahmi dengan BKKBN, yang memiliki program membangun Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera, diharapkan mampu untuk menekan perceraian di Jawa Timur” harap H. Nurcholis.

Masih menurut H. Nurcholis, perceraian banyak diajukan oleh pihak wanita, sekitar 65%perceraian akibat cerai gugat, atau diajukan oleh istri. Walau kini untuk bercerai sudah dipersulit namun masih saja banyak terjadi. Akibat keluarga berantakan ini akankemungkinan besar menciptakan  kemiskinan baru, akibat wanita terpisah dari suami, anak yang terlantar atau terganggu pendidikannya.

“Alangkah baiknya nanti kalau sebelum menikah, calon pengantin ini dikursus terlebih dahulu untuk menyiapkan diri masuk ke dunia baru, dunia rumah tangga, sehingga bisa menggapai keluarga kecil bahagia sejahtera , sakinah mawadah warohmah” tandas lelaki humoris itu menanggapi sambungnya kembali Depag dan BKKBN yang masing-masing memiliki program membangun keluarga.

Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Djuwartini, SKM, MM mengungkapkan, bahwa sebenarnya jalinan silaturahmi sebelum reformasi antara Depag dan BKKBN sangat akrab, dan kini diupayakan disambung kembali untuk saling bergandeng tangan mensukseskan program.

Djuwartini mengungkapkan, langkah awal silaturahmi ini sengaja dipilih dengan daerah tertinggal, terpencil dan terbatas, yakni seluruh kabupaten di Madura, ditambah Gresik dan Probolinggo karena  di daerah ini banyak wanita yang ingin ber KB  tetapi tidak bisa terlayani. Jumlahnya cukup banyak yakni mencapai 30 persen. Ibu murah senyum ini juga menceriterakan bahwa kini dunia sudah dihuni oleh 7 milyar penduduk, sedang bumi tidak berubah. Sedang di Jatim sendiri sudah berpenduduk 37 juta lebih, dengan jumlah kelahiran setiap tahun mencapai 600.000 bayi atau sekitar 1500 – 1600 setiap hari bayi lahir di Jawa Timur. Penduduk banyak yang berkualitas akan menjadi modal pembangunan, tetapi kalau kualitas penduduk rendah akan menjadi beban pembangunan. Jawa Timur dalam hal kualitas penduduk berada pada posisi 18 dari  38 propinsi di Indonesia.  Kualitas rendah menurut Kepala Perwakila BKKBN Jatim antara lain disebabkan oleh belum matangnya seseorang ketika memasuki biduk rumah tangga. Di Jawa Timur usia rata-rata wanita memasuki rumah tangga adalah 19, 7 tahun, sedang di daerah kepulauan umur 18 tahun. Usia muda, yang sebenarnya masih bisa digunakan untuk menimba ilmu.

“Usia muda, belum matang untuk memasuki rumah tangga secara fisik maupun ekonomi, akhirnya  rumah tangga rapuh dan mengakibatkan mudahnya perceraian” ujar Djuwartini.

“Untuk itu saya titip kepada bapak sekalian, untuk mensosialisasikan  program KB, utamanya dalam menunda usia perkawinan, agar ketika masuk rumah tangga sudah siap segalanya. Atau kalau memang terpaksa kawin muda, tolonglah dinasehati untuk menunda punya anak dengan memakai kontrasepsi, sehingga mereka tidak hanya merasakan bulan madu tapi tahun madu” katanya.

Peserta Need Assesmentmenurut Kabid ADPIN Waluyo AjengLukitowati,S.St, MM adalah para Kepala KUA dan Penghulu dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Gresik dan Probolinggo sebanyak 80 orang. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan menambah wawasan peserta dalam program KKB sehingga terbentuk sinergi dalam pembangunan keluarga kecil bahagia sejahtera, sakinah, mawadah warohmah. (AT/Humas).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *