TALKSHOW BERSAMA STASIUN RRI SURABYA “ANCAMAN BABY BOOM PASCA PANDEMI COVID-19

Surabaya – Jum’at 22 Mei 2020, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Drs Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd berkesempatan untuk melakukan Talkshow Live On Air Bersama Stasiun RRI Surabaya pada pukul 09;15 – 09:30 WIB siang tadi. Tema yang diangkat dalam wawancara singkat tersebut adalah “Ancaman Baby Boom Pasca Pandemi Covid-19 di Jawa Timur.

Pada kesemoata tersebut Bapak Teguh menjelaskan bahwa masa Pandemi Covid-19, telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS). Terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan atau Unwanted Pregnancy karena tidak teraksesnya Pasangan Usia Subur terhadap pelayanan kontrasepsi yang akan menjadi fenomena baby boom.

Dampak dari unwanted pregnancy atau kehamilan yang tidak diinginkan ini ada beberapa hal. Yang pertama adalah terjadinya stunting, dampak selanjutnya adalah tingginya Angka Kematian Ibu (AKI), dampak yang ketiga adalah meningkatkan Angka Kematian Bayi (AKB). Kalau ada kehamilan yang tidak diinginkan dan kehamilan meningkat, biasanya tingkat kematian anak juga meningkat.

Situasi pandemic Covid-19 di tahun 2020 ini harus menjadi perhatian dan kewaspadaan. Sebab bisa jadi angka kelahiran 2021 di Jawa Timur akan meningkat. Pada tahun 2019 jumlah kehamilan 627.901. jadi terjadi peningkatan 8,58 %. Jumlah PUS di Jawa Timur 7.849.073 dan yang hamil sampai bulan April 2020 sebanyak 227.260 atau sekitar 2,9%. Jika bulan berikutnya mengikuti pola kehamilan bulan April ini, maka pada akhir 2020 diperkirakan ada sebanyak 681.780 kehamilan.

” Salah satu penyebabnya karena jumlah DO kontrasepsi di Jawa Timur meningkat secara signifikan. Pada Bulan Februari terjadi DO sebanyak 68.547 /1,13%; Bulan Maret sebanyak 278.356/4,68%; dan April sebanyak 414.708/7,07%. DO yang paling tinggi tercatat di Kota Madiun yaitu 45,31%, Kabupaten Jombang 30,29% dan Kota Surabaya 20,77%” Ugkap Sukaryo Teguh. PakTeguh menambahkan bahwasannya banyak faktor yang membuat angka DO Kontrasepsi menjadi lebih tinggi diantaranya adalah bahwa memang peserta KB tersebut sudah memasuki masa menapause, meninggal atau bahkan dikarenakan data-data yang belum terlaporkan.

Kehamilan yang tak direncanakan berisiko terjadi di masa pandemi COVID-19, ketika pasangan suami-istri lebih banyak berkegiatan di rumah. Ada 1001 himbauan mengapa sebaiknya masyarakat untuk menunda kehamilan terutama pada masa pandemi Covid 19 saat ini, diantaranya pertimbangan mengenai kesehatan Ibu hamil dan janin selama pandemi.

Alasan mengapa masyarakat menunda dulu kehamilan terutama pada masa Pandemi Covid-19 adalah soal pertimbangan mengenai kesehatan perempuan yang hamil dan kondisi fasilitas kesehatan selama Pandemi Covid-19. “Karena orang hamil, terutama hamil muda, daya tahan tubuhnya menurun. Kalau daya tahannya turun itu akan mudah terkena infeksi”.

Langkah konkret yang harus dilakukan adalah jemput bola memberikan pendampingan dan konsultasi, komunikasi, informasi dan edukasi terutama dari PKB. Bisa dilakukan dengan menggunakan media online atau daring di masa pandemi Covid-19. “Namun, apabila sudah terlanjur hamil, disarankan agar orang tersebut diam di rumah dan tidak panik. Tetap jaga jangan sampai terjadi sesuatu. Tetap kontrol karena ini penting” Pungkas Bapak Teguh.

Pada akhir wawancara tersebut Bapak Teguh tidak berhenti mengingatkan bagi semua keluarga untuk tetap menjaga diri, keluarga dan senantiasa mematuhi protokol dan anjuran pemerintah dalam penanggulangan Pandemi Covid-19 ini. “Kalau perlu mari ingatkan tetangga sekitar kita untuk tetap mematuhi protokol dan aturan pemerintah”. (humas)